Minggu, 11 Desember 2011

CONTOH LAPORAN PENELITIAN DI PESANTREN


LAPORAN STUDI LAPANGAN
DI PONDOK PESANTREN AL-IKHLAS
DESA BABAKAN KECAMATAN CIWARINGIN
KABUPATEN CIREBON



Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dari Program Pascasarjana
Program Studi Pendidikan Islam   Konsentrasi Pendidikan Agama Islam ( PAI )
Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon





 Oleh :

S O B A R U D I N
Kelas : PAI - A







PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2011 M


KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah  Penulis  panjatkan ke hadirat Allah SWT, Laporan hasil penelitian dengan tema “Potret Pondok Pesantren Al-Ihklas Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon” dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan telah terselesaikan.
Laporan ini tidak mungkin dapat tersaji tanpa bantuan dan keterlibatan banyak pihak. Untuk itu Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada :
1.     Bapak Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi, M.Ag selaku Direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
2.     Bapak Dr. H. Adib, M.Ag. selaku Dosen Pembimbing.
3.     Bapak KH. Mukhlas, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.
4.     Seluruh Jajaran Pengurus Pondok Pesantren juga kepada seluruh santri Pondok Pesantren Al-Ikhlas Desa Babakan Kec. Ciwaringin Kab. Cirebon.
5.     Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya pula di sampaikan kepada semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu, begitu juga kepada rekan-rekan Mahasiswa Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati yang telah memberikan dorongan moril pada saat melakukan penelitian.
Akhirnya, kesempurnaan hanya milik Allah SWT, tegur sapa demi perbaikan di kemudian hari sangat di nanti, semoga menjadi kebaikan bagi semua, Amin...
Cirebon, 29 September 2011
Peneliti,

Sobarudin.

DAFTAR ISI
Halaman Judul  ............................................................................................... i
Kata Pengantar   ............................................................................................. 1
Daftar Isi   ....................................................................................................... 2
BAB   I  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang   .................................................................................. 4
B.    Rumusan Penelitian   .......................................................................... 6
C.    Tujuan Penelitian   .............................................................................. 7
D.    Metode, Lokasi, dan  Waktu Penelitian ............................................. 8
E.     Sistematika Penulisan ........................................................................ 9
BAB   II  KONDISI OBYEKTIF PONDOK PESANTREN AL-IKHLAS
A.    Letak Geografis Pondok Pesantren Al-Ikhlas ................................... 10
B.    Sejarah Pendirian Pondok Pesantren Al-Ikhlas ................................ 10
C.    Profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas .................................................... 11
D.    Kriteria Pondok Pesantren ................................................................  13 
E.     Kendala Yang di hadapi Pondok Pesantren Al-Ikhlas .....................  15
BAB III PEMBAHASAN
A.    Philosofi pendirian Pondok Pesantren Al-Ikhlas ............................  18
B.    Profil Pondok Pesantren Al-Ikhl......................................................  19
C.    Respon masyarakat dan santri terhadap Ponpes Al-Ikhlas .............  19
D.    Keterkaitan isu terorisme di Indonesia dengan
pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Ikhlas .................................  20
                                                                                         

BAB IV KESIMPULAN
A.    Kesimpulan  ....................................................................................  22
B.    Saran/Rekomendasi  .......................................................................  23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................  24
Lampiran, Foto-Foto ..................................................................................  25





















BAB I
PENDAHULUAN
A.              Latar Belakang Masalah
Tak asing nampaknya dengan sebutan Pondok Pesantren di telinga kita, Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya modal keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[1]  Sejak saat itu, lembaga pesantren tersebut telah mengalami banyak perubahan dan memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia.
Secara historis, Pondok Pesantren dikenal di Indonesia sejak zaman Walisongo. Ketika itu Sunan Ampel mendirikan sebuah padepokan di Ampel Surabaya dan menjadikannya pusat pendidikan di Jawa. Para santri yang berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Gowa dan Talo, Sulawesi.
 Pesantren Ampel merupakan cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di Tanah Air. Sebab para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing. Maka didirikanlah pondok-pondok pesantren dengan mengikuti pada apa yang mereka dapatkan di Pesantren Ampel.[2]
 Materi yang dikaji adalah ilmu-ilmu agama, seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist dan lain-lain. Biasanya mereka mempergunakan rujukan kitab turost atau yang dikenal dengan kitab kuning. Di antara kajian yang ada, materi nahwu dan fiqih mendapat porsi mayoritas. Ha litu karena mereka memandang bahwa ilmu nahwu adalah ilmu kunci. Seseorang tidak dapat membaca kitab kuning bila belum menguasai nahwu. Sedangkan materi  fiqih karena dipandang sebagai ilmu yang banyak berhubungan dengan kebutuhan masyarakat (sosial). Tidak heran bila sebagian pakar meneybut sistem pendidikan Islam pada pesantren dahulu bersifat “fiqih orientied” atau “nahwu orientied”.
Pada zaman walisongo, pondok pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Juga pada zaman penjajahan Belanda, hampir semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak dapat dukungan sepenuhnya dari pesantren.
Selanjutnya, pondok pesantren berperan dalam era kebangkitan Islam di Indonesia  telah terlihat dalam dua dekade terakhir ini. Akhirnya, pada awal abad ke-21 ini, dalam konteks peran Amerika Serikat melawan terorisme dan penangkapan pelaku peledakan bom di Bali dan sejumlah tempat lainnya, pondok pesantren dituding memainkan peran sebagai lembaga pendidikan yang menyebarkan ajaran Islam ekstrim.
Tuduhan tersebut adalah hal yang sangat serius bagi lembaga-lembaga pondok pesantren di Indonesia, terutama pada saat ini ketika Amerika Serikat dan sekutunya sedang mencari dan mencoba menebak tindakan berikut jaringan teroris yang ternyata sudah muncul di Indonesia.
 Stigma “sarang teroris” yang belakangan ini melekat pada pondok pesantren di Indonesia berdasarkan dari proses pencarian dan penangkapan pelaku peledakan bom di Bali, JW Mariot, Rist Calton  dan sejumlah tempat lain  terlebih-lebih belum lama ini terjadi pengeboman di dalam Masjid komplek Mapolresta Cirebon Jawa Barat oleh Muhammad Syarif selaku pelakunya.
Kabupaten Cirebon khususnya di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin yang notabene sebagai kampung santri dengan jumlah pesantren tidak kurang 32 Pesantren dengan jumlah sekitar 7000 santri merasa tertantang untuk menyangkal stigma diatas.[3]
 Berdasarkan fenomena diatas, maka Penulis merasa perlu untuk meneliti ada potensi apa sehingga jumlah Pondok Pesantren satu desa sedemikian banyak serta adakah keterkaitan isu terorisme di Indonesia dengan pola pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.
B.              Rumusan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.       Philosofi apakah yang mendorong  pendirian Pondok Pesantren yang begitu banyak di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon ?
2.       Bagaimana profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon ?
3.       Bagaimana respon masyarakat dan santri terhadap existensi Pondok Pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon ?
4.       Adakah keterkaitan isu terorisme di Indonesia dengan pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon ?


C.              Tujuan Penelitian
1.       Untuk mengetahui  philosofi pendirian pondok pesantren di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten.
2.       Untuk memperoleh data profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.
3.       Untuk megetahui respon masyarakat sekitar dan santri akan existensi Pondok Pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan Kecamatan Ciwaaringin Kabupaten Cirebon.
4.       Untuk mengetahui adakah keterkaitan isu terorisme di Indonesia khususnya di Cirebon dengan pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.
D.               Metode, Lokasi, Waktu dan Sumber Data Penelitian
1.   Metode Penelitian
                Untuk mengetahui dan memperoleh data yang dibutuhkan, maka penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data diataranya :
ü  Observasi
                Observasi dilakukan untuk memperoleh data dari lapangan dengan melalui pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian.  Data yang dimaksud antara lain perilaku keseharian para santri baik selama di dalam lingkungan pesantren amaupun selama berada di dalam proses pembelajaran atau penyelenggaraan pengajian kitab.


ü  Wawancara
                 Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan dialog atau tanya jawab secara langsung dengan sejumlah responden, baik santri, kyai atau ustadz, serta pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini. Data yang dibutuhkan adalah masalah persepsi, sikap, dan respon para responden tekhadap pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin-Cirebon.
ü  Dokumentasi
                 Teknik ini pada dasarnya lebih mengutamakan kerja penulisan atau pencatatan atau rekaman (recording) tentang setiap objek yang diteliti. Akan tetapi, pencatatan terhadap data-data yang berbentuk catatan atau dokumen dijadikan sebagai pilihan  prioritas.
ü  Studi Kepustakaan
                 Studi kepustakaan adalah salah satu upaya membangun kepercayaan (trustworthinnes) sebuah penelitian. Teknik ini penulis lakukan dengan cara memperlajari dan mengkaji berbagai sumber referensial mengenai kepersantrenan.
2.   Lokasi Penelitian
                Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.
3.   Waktu Penelitian
                Waktu dilakukan untuk penelitian ini adalah dua bulan, yakni bulan Agustus sampai September 2011.
4.   Sumber Data
a.       Sumber data Primer, yaitu orang-orang yang terlibat dalam Pondok Pesantren Al-Ikhlas Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.
b.       Sumber data Skunder, yaitu studi pustaka yang menunjang data-data tertulis, baik berupa buku, website, blog, artikel dan sejenis lainnya.
E.               Sistematika Penulisan
            Penulisan Laporan ini akan dibagi menjadi empat bab, dimana tiap babnya di bagi menjadi beberapa sub bab, yaitu :
   Bab I    : Merupakan Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, rumusan  masalah, tujuan penelitian, metode, lokasi, waktu dan sistematika penulisan.
Bab II    : Kondisi Obyektif lokasi penelitian  terdiri dari Letak Geografis,
Sejarah Pendirian Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Kriteria Pondok Pesantren, Kendala Yang dihadapi Pondok Pesantren Al-Ikhlas.
Bab III : Pembahasan, terdiri dari Philosofi pendirian Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Respon masyarakat dan santri terhadap Ponpes Al-Ikhlas, Keterkaitan isu terorisme di Indonesia dengan pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Ikhlas.
Bab IV :   Kesimpulan, terdiri dari kesimpulan dan saran.




BAB II
KONDISI OBYEKTIF PONDOK PESANTREN AL-IKHLAS
A.    Letak Geografis Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Pondok Pesantren Al-Ikhlas terletak di Desa Babakan RT 02 RW 02 Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon tepatnya Jalan Gondang Manis Babakan Ciwaringin. Secara geografis,  letak Pondok Pesantren Al-Ikhlas sangat strategis karena mudah untuk diakses. Desa Babakan terletak di sebelah Utara jalan raya Cirebon – Bandung yang merupakan jalur utama.[4]
Hal ini semakin memposisikan betapa lokasi pesantren-pesantren yang berada di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin ini menjadi salah satu tujuan utama bagi mereka-mereka yang bertujuan untuk mencari dan mendalami ilmu keislaman disamping ilmu lain  di lembaga pendidikan formal lainnya.
B.    Sejarah Pendirian Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Pesantren Al-Ikhlas didirikan oleh Bapak KH. Mukhlas pada tahun sekitar 1980 M. Bapak KH. Mukhlas sendiri merupakan anak dari KH. Ulwan dan Hj. Maemunah yang keduanya merupakan warga asli Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin. Bapak KH. Mukhlas menikah dengan  Hj Aminah, dari hasil pernikahannya itu dikaruniai empat orang anak, yakni Ustadzah Hj. Amiroh, Ustadzah Jannah, Ustadz Salman dan Ustadzah Nur Azizah yang kesemuanya turut membantu membesarkan dan mengelola akan keberadaan pesantren Al-Ikhlas ini.
Sebelum mendirikan Pondok Pesantren Al-Ikhlas  ini, KH. Mukhlas mesantren untuk belajar ilmu ke Islaman yakni di desa kelahirannya sendiri  di Desa Babakan hingga usia menjelang remaja, selanjutnya melanjutkan lagi ke pondok Pesantren di Arjawinangun,  seselesainya dari Arjawinangun kemudian melanjutkan ke pesantren di Kaliwungu, kemudian terakhir meneruskan mesantrennya ke pesantren di Lasem. Sekembalinya dari Lasem inilah KH. Mukhlas mendirikan pondok pesantren Al-Ikhlas seperti sekarang ini.
Pada saat awal Pondok Pesantren ini didirikan, hanya memiliki 4  orang santri putra dan 4 orang santri putri, di tambah sebagian santri kalong (santri tidak mondok / pulang kerumah) pada saat selesai belajar ilmu ke Islaman. Ketika dilakukan wawancara jumlah  santri di Pondok Pesantren Al-Ikhlas ini berjumlah 70 orang santri Putra dan 70 orang santri putri. Apabila di cermati perkembangan santri dibandingkan dengan waktu pendirian maka dapat dikatakan pesantren Al-Ikhlas ini tidak mengalami kemajuan cukup pesat dari sisi jumlah santri yang mondok.[5]
C.    Profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas
I.         VISI 
1.     Membentuk pribadi santri yang sholeh atau sholihah.
2.     Membentuk pribadi santri yang mulya bermanfaat bagi sesama.
II.       MISI
1.   Mempersiapkan santri menjadi Da’i atau Da’iyah.
2.   Mempersiapkan santri untuk siap terjun ke masyarakat.
III.     STRATEGI
1.     Melakukan sistem pengajaran yang baik dan efektif,
2.     Melatih santri trampil berpidato, ceramah, memimpin tahlilan, memimpin debaan dll.
3.     Melakukan proteksi  kepada santri dari pengaruh negatif yang datangnya dari luar pesantren.
4.     Melakukan kerjasama dengan Pondok Pesantren yang lain.
5.     Merekrut tenaga pengajar profesional di bidang dakwah.

IV.    Jadwal Kegiatan Rutin Pondok Pesantren Al-Ikhlas
            Waktu belajar ngaji di Pondok Pesantren Al-Ikhlas setiap selesai sholat Subuh, setelah sholat Ashar dan setelah sholat Magrib, selanjutnya kegiatan yang bersifat rutin tetapi diluar ngaji kitab, berikut jadwalnya :
v Malam rabu = sholat tasbih ba’da isya berjama’ah
v Malam jum’at = ngaji yasin jama’ah ba’da maghrib
v Malam jum’at = marhabanan + belajar
v Haul = akhir juni atau awal juli
v Muludan = marhabanan tangal 1 – 12 mulud
v Asyuro = ngaji yasin + do’a
v Kupatan = tangal 8 syawal
v Qurban = tanggal 10 dzulhijah
v Nisfu sya’ban = yasinan + do’a
v awal tahun hijriyah = yasianan+ do’a

V.      Struktur Organisasi Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Pengasuh                            : KH. Mukhlas
Sekretaris                           : Ustadz Salman
Bendahara                          : Ustadzah  Hj. Amiroh
                         Seksi – seksi :
Seksi Kurikulum                 : Ustadzah Nur Azizah
Seksi Kesantrian                 : Ustadzah Jannah
Seksi Jama’ah                     : Ustadz Askar dan Ustadzah Hj. Anah
Seksi Humas                       : Ustadz Ahid
Seksi Kebersihan                : Ustadzah Ade Muthoharoh
Pendamping Maktab Putra : Ustadz Nurohman
Pendamping Maktab Putri  : Ustadzah Hj. Amiroh[6]

VI.            Kajian Kitab Klasik atau Kitab Kuning
            Pondok Pesantren Al-Ikhlas mengkaji dan mengajarkan kepada para santrinya kitab-kitab klasik atau sering disebut dengan kitab kuning, diantaranya :
1.        Kitab Fiqih     :  Safinatun an Najah, Fathul Muin, Taqrib, Adurul Fiqih
2.        Kitab Tafsir    :  Jalalen
3.        Kitab Akhlaq  :  Ta’lim Muta’lim
4.        Kitab Tajwid   :  Syifa’ul Jinan, Tufatul Atfal
5.        Kitab Tauhid   :  Aqoidul Dariyah, Aqidatul ‘Awam, Jauhar Tauhid
6.        Kitab Nahwu   : Jurumiyah, Imriti, Awamil, Alfiyah.
7.        Kitab Nikahan :  Uqudulu jain.
             Selain kajian seperti di atas terdapat pula kegiatan khas pesantren salaf yakni pembacaan Marhaba, Deba’ serta tahlil yang dilaksanakan setiap malam jum’at.[7]
D.    Kriteria Pondok Pesantren

         Pondok Pesantren Al-Ikhlas nampaknya sudah memenuhi kriteria sebuah Pondok pesantren menurut aturan pendirian sebuah Pondok Pesantren, yakni ditandai dengan adanya :
v Kyai / Ustadz
            Pondok pesantren ini diasuh oleh  KH. Mukhlas. Meskipun sudah usia lanjut, beliau masih bersemngat memajukan para santrinya untuk siap terjun kemasyarakat sehingga harapannya kedepan santrinya dapat dibutuhkan dan berguna khusus bagi dirinya dan umumnya bagi masyarakat.
            Dalam kiprahnya beliau memajukan pesantren yang dipimpinnya, beliau dibantu oleh anak-anaknya juga 20 orang ustadz dan 17 orang ustadzah yang kompeten dibidangnya.[8] Hal yang menarik di Ponpes ini adalah kesemua ustad yang membantu proses belajar mengajar semuanya tidak diberi gajih oleh sang Pengasuh Pondok, semuanya dilakukan semata-mata pengabdian dan lillahi ta’ala.
v Santri atau siswa
            Jumlah Santri di pondok ini  selalu mengalami pasang surut dan tidak terlalu banyak yakni 140 orang santri, terdiri dari 70 orang santri putra dan 70 orang santri putri. Tidak terlalu banyak jumlahnya bila dibandingan dengan waktu berdirinya yang cukup lama, hal ini dikarenakan para santri yang ada di Pondok pesantren Al-Ikhlas ini bersatatus gandan, yakni sebagai siswa pada lembaga pendidikan formal yang ada di desa Babakan. Mereka yang nyantri berasal dari daerah Cirebon, Majalengka, Kuningan dan ketika sudah selesai menimba ilmunya di lembaga pendidikan formal, maka secara otomatis mereka juga akan keluar dari pondok Pesantren Al-Ikhlas ini, begitulah seterusnya dari sisi jumlah mengalami fluktuatif.
v Musolla / Masjid
            Pondok pesantren Al-Ikhlas memiliki 2 musholla meskipun masih berukuran kecil akan tetapi memuat seluruh santri yang ada. Yakni 1 mushola untuk santri putra dan 1 mushola untuk santri putri. Keberadaan musholla nampaknya dimanfaatkan benar oleh para santri untuk melakukan aktivitas keseharian yang berhubungan dengan menimba ilmu-ilmu keagamaan dan utamanya ilmu seni membaca Al-Qur’an. Al- Qur’an santri dan sajadah serta perangkat musholla lainnya tertata rapih di dalamnya.
v   Asrama/Pondokan
          Pondok Pesantren Al-Ikhlas memiliki asrama/pondokan untuk santri  putra sebanyak 8 kamar dan 4 kamar untuk santri putri. Semuanya tidak jauh dari tempat tinggal dari keluarga Kyai, hal ini dimaksudkan agar lebih mudah untuk mengadakan pengawasan terhadap santri itu sendiri.[9] Satu Kamar untuk para pengurus terpisah dengan kamar santri berada di sudut ujung pesantren, hal ini juga dalam rangka untuk memudahkan pemantauan terhadap para santri dari jarak jauh, serta tempat menjemur pakaian juga tidak jauh dari pondokan masing-masing.
E.     Kendala Yang Dihadapi Pondok Pesantren Al-Ikhlas

a.    Terbatasnya Sarana dan Prasarana

        Segala kebutuhan sarana dan prasana yang menyangkut pembangunan pondok, masjid, koperasi, dengan segala perlengkapannya masih sangat minim. Hal ini dikarenakan pembiayaan selama ini lebih banyak diperoleh dari pribadi Pengasuh Pondok dan keluarga juga dari swadaya masyarakat, tidak mendapat bantuan dari Pemerintah Pusat, Propinsi ataupun Kabupaten. Namun demikian, dengan segala keterbatasan yang ada akan tetapi kegiatan pondok pesantren berjalan sungguhpun tidak mulus dan lancar.
b.   Minimnya Dana dan Kesejahteraan Pengajar
       Terbatasnya perbendaharaan dana lembaga sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan bagi tenaga pengajar. Untungnya tenaga pengajar atau para ustadz di pondok Pesantren ini telah siap dan terbiasa untuk tidak menerima gajih. Hal ini dilakukan dalam rangka berbakti pada lembaga yang sebelumnya pernah memberinya ilmu keagamaan dan sebagai perwujudan amal sholeh. Dengan ini berarti para pengajar di pondok Pesantren ini sedang berjual beli atau berniaga dengan Allah SWT.
        Pondok pesantren ini untuk operasional kegiatan sehari-hari hanya bersumber dari Syahriyah santri yang dikenai biaya untuk makan 2 kali dengan menu sederhana sebesar Rp. 100.000 per bulan ditambah uang air bersih dan listrik Rp. 37.000 per bulan per orang santri.[10]

c.    Lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM)

        Lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kendala tersendiri bagi pengembangan dan peningkatan kualitas Pondok Pesantren Al-Ikhlas ini,  Sebagaimana diungkapkan oleh  Bendahara Pondok Pesantren ibu Hj. Amiroh saat dilakukan wawancara, di Pondok ini masih  kekurangan guru untuk bidang Teknologi Informasi atau IT, guru untuk keterampilan perkoperasian, Guru Menjahit dll.
        Kelemahan berikutnya adalah ketika jabatan tertentu tidak ditangani oleh yang bukan ahlinya atau kurang berpengalaman di bidangnya, sehingga mengakibatkan hasil yang kurang maksimal. Tidak ketinggalan bahwa kelemahan itu juga  ditemukan pada pengurus-pengurus santri. Mereka dapat dikatakan masih sangat minim untuk mengurusi santri- santri untuk bisa maju lebih optimal, hal ini disebabkan di antaranya oleh karena usia yang masih relatif muda dan belum memiliki kharisma untuk menjadi seorang pengurus, dalam hal ini lebih tepatnya karena faktor senioritas semata.
       Kendala lemahnya SDM ini erat kaitannya dengan lemahnya pendanaan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas ini. Mendatangkan guru yang bukan alumni di pondok ini berarti harus siap untuk sistim penggajihannya.
            Namun demikian, usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas di antara mereka senantiasa dilakukan, seperti dalam bentuk mengikutsertakan mereka dalam acara-acara seminar, workshop, atau pelatihan-pelatihan lainnya.
       Usaha yang dilakukan di dalam institusi pesantren  sendiri yakni dengan dibangun jiwa kebersamaan dan dasar keikhlasan dalam beramal serta saling melengkapi, saling membutuhkan lebih-lebih saling belajar di  antara yang senior dengan yunior.
      















BAB III
P E M B A H A S A N
A.              Philosofi pendirian Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Philosofis pendirian Pondok Pesantren Al-Ikhlas ini adalah sebagai sarana  untuk mengamalkan ilmu sang Kyai atau pendiri pondok pesantren yang selama ini di pelajari sehingga diharapkan dapat bermanfaat untuk sesama. Dimaklumi bersama bahwa rata-rata pondok pesantren yang berada di desa Babakan Kecamatan Ciwaringin ini mempunyai philosofi pendirian yang tidak jauh berbeda dengan pendiri Ponpes Al-Ikhlas ini. Maksudnya hampir seluruh pondok pesantren yang berada di desa Babakan Ciwaringin yang berjumlah kurang lebih 32 pesantren ini mempunyai motivasi pendirian pesantrennya seperti itu, hal ini merupakan kekuatan dan ciri khas tersendiri pesantren-pesantren di desa Babakan, sehingga hal ini perlu di contoh oleh pesantren-pesantren yang lain yang cenderung mempunyai orientasi yang lain sehingga terkesan melenceng dari substansi pesantren.
Hal ini pula yang membedakan desa Babakan kecamatan Ciwaringin ini dengan desa atau kota yang lain di Indonesia, sehingga desa Babakan ini sering di sebut dengan kampung pesantren. Bandingkan saja batas satu pesantren dengan pesantren yang lainnya hanya dibatasi dengan tembok, hal itu pasti tidak ada di desa atau kota lain. Hal unik lainya yang ada di desa Babakan ini adalah antara satu pesantren dengan pesantren lainnya pemiliknya mempunyai hubungan pertalian keluarga. Ini berimplikasi bagi harmonisasi dalam kehidupan kepesantrenan, sehingga tidak dijumpai adanya persaingan tidak sehat terutama pada masa-masa penerimaan santri baru ataupun penerimaan siswa baru.


B.              Profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas apabila ditinjau dari segi prasyarat suatu pondok pesantren yang telah baku khususnya di Indonesia maka dapat dikatakan telah memenuhi kriteria itu. Seperti telah adanya sosok Kyai/pengasuh/ustadz,  adanya santri,  masjid/musolla, asrama/pemondokan dan adanya kajian kitab klasik / kitab kuning.
Sungguhpun demikian di bidang manajemen dan SDM masih perlu pembenahan, hal ini dapat terlihat bahwa para pengurus dan ustadznya tidak memiliki kualifikafi pendidikan formal (S1, S2 maupun S3) padahal hampir     95 % dari santrinya berstatus ganda, yakni sebagai santri dan sebagai siswa di lembaga pendidikan formal seperti MTs atau SMP  dan MA.
Hal ini akan lain dampaknya bila para pengurus maupun ustadznya mempunyai kualifikasi pendidikan formal bisa cara pengeloaanya menjadi lebih baik ataupun teknik pengajarannya menggunakan media dan teknik yang pariatif sehigga suasana pembelajaran di pesantren tidak jemu dan kaku.
C.              Respon masyarakat dan santri terhadap Ponpes Al-Ikhlas
Berkaitan dengan respon masyarakat dan santri akan keberadaan pondok pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan ini sangat menyambut baik dan benar-benar dirasakan manfaatnya.
Hal ini terbukti setelah dilakukan penelitian atau kajian empirik ternyata masyarakat menyambut dan merasakan manfaatnya sehingga tidak heran bila para santrinya bukan saja dari penduduk sekitar pondok saja tetapi ada sebagian dari tetangga kabupaten sekitar, seperti dari kabupaten Indramayu, Majalengka, Kuningan dan tentunya dari Kodya Cirebon, bahkan ada dari kabupaten Sumedang dan Bandung.
Masih berkaitan dengan ini pula, maka tidak heran apabila para alumni dari pondok pesantren Al-Ikhlas ini tersebar di kabupaten tadi untuk selanjunya terjun ke masyarakat dan tidak sedikit pula yang meneruskan pendidikannya ke Perguruan Tinggi  di Indonesia bahkan ke luar negeri, seperti Maroko, Tunisia maupun Mesir. [11]
D.              Keterkaitan isu terorisme di Indonesia dengan pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Issu terorisme di Indonesia selamai ini terjadi,  seakan menampar  wajah Cirebon, terlebih setelah terjadinya bom bunuh diri di dalam masjid komplek Mapolresta Cirebon yang diduga pelakunya M. Syarif juga baru-baru ini terjadinya bom bunuh diri di Solo yang diduga masih ada kaitannya dengan jaringan bom Cirebon, menambah serentetan panjang pelaku terorisme di Indonesia tercinta.
Apabila dicermati dengan melakukan kajian empirik di Pondok Pesantren Al-Ikhlas desa Babakan kecamatan Ciwaringin sebagai anggota dari sekian banyak ponpes yang di desa itu, dengan jumlah lebih kurang 32 pesantren nampaknya issu terorisme tidak tepat bila dialamatkan ke pesantren Al-Ikhlas ini. Hal ini terbukti tidak diketemukannya kegiatan-kegiatan yang bernuansa teror dan buku-buku yang bernuansakan terorisme. Jangankan kegiatan dan buku tentang terorisme, membawa Hand Phone/HP saja di pesantren ini tidak boleh, nonton Televisi juga tidak boleh. Tergambar benar bahwa kegiatan protektif oleh sang pengasuh beserta jajarannya itu dilakukan secara serius bagi para santri yang mondok di Pondok Pesantren Al-Ikhlas untuk tidak terjerumus pada kegiatan dan tindakan bernuansakan terorisme. Hal ini pula yang menambah kepercayaan para orang tua santri untuk memasukan para putranya ke pesantren Al-Ikhlas ini, terbukti dengan adanya peningkatan jumlah santri dan tidak adanya pencabutan maupun pemutasian santri gara-gara terlibat issu terorisme.
Jadi tidak benar adanya issu terorisme bila di alamatkan ke pesantren-pesantren yang ada di desa Babakan kecamatan Ciwaringin kabupaten Cirebon. Sungguhpun telah terjadi di Cirebon kejadian bom bunuh diri yang dilakukan oleh M. Syarif di masjid komplek Mapolresta Cirebon lantas kemudian di generalisir bahwa  Cirebon merupakan sarang terorisme, jelas hal itu tidak benar dan tidak dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.

        











BAB   IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
1.     Philosofi pendirian pondok Pesantren Al-Ikhlas adalah sebagai sarana untuk mengamalkan ilmu sang kyai sehingga bermanfaat bagi manusia.
2.     Profil Pondok Pesantren Al-Ikhlas telah memenuhi kriteria sebuah pesantren, mulai dengan adanya Kyai, santri, masjid/musollah, asrama, dan adanya kajian kitab kuning.
3.     Masyarakat desa Babakan bahkan tetangga kabupaten seperti Indramayu, Majalengka, Kuningan dan Kotamadya Cirebon bahkan Sumedang dan Bandung  sekalipun menyambut baik akan keberadaan pondok pesantren Al-Ikhlas di desa Babakan kecamatan Ciwaringin kabupaten Cirebon.
4.     Issu terorisme yang dialamatkan ke pesantren di Indonesia dan ke pesantren di di Cirebon khususnya di pesantren Al-Ikhlas desa Babakan kecamatan Ciwaringin sangatlah tidak benar dan tidak tepat, dengan argumentasi empirik tidak diketemukannya indikasi ke arahnya.
Saran :
1.     Philosofi pendirian pondok pesanten hendaklah di ikuti oleh pesantren yang lain sehingga suasana agamis penuh keikhlasan akan semakin tampak dan menonjol bukan saja materi orientid.
2.     Profil pondok pesantren Al-Ikhlas telah memenuhi prasyarat sebuah pesantren yang diakui oleh Pemerintah, sehingga diharapkan adanya perhatian yang lebih dari pemerintah pusat, propinsi maupun kabupaten sehingga pesantren dijadikan mitra kerjasama dalam segala bidang terutama pendidikan dan penanaman karakter Islami (akhlak mulia).
3.     Respon masyarakat yang baik sebaiknya terus ditingkatkan dalam  kaitan kerjasama untuk melengkapi kekurangan dan meminimalisir kendala yang dihadapi oleh pihak pondok pesantren al-Ikhlas, sehingga diharapkan kedepan akan semakin maju baik sisi kualitas maupun kuantitas santri.
4.     Issu terorisme yang dialamatkan terutama oleh Amerika dan negara zionis lainnya ke pesantren sebaiknya di hentikan dengan memfokuskan pada hal-hal yang lebih substansial dan krusial yakni masalah korupsi, pelanggaran HAM, kejahatan perang dan kapitalisme ekonomi sehingga masyarakat khususnya umat Islam  tidak dibayang-bayangi ketakutan dan intimidasi sepihak.

















DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Mas’ud, “Sejarah dan Budaya Pesantren”, dalam, Ismail Huda SM, ed.,     Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2002)
Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1399 H.)
Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982)
Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994)
Wawancara dengan KH. Mukhlas dan Hj. Amiroh tanggal 12 September 2011
Wawancara dengan KH. Mukhlas dan Hj. Amiroh tanggal 20 September 2011


















Lampiran : Foto-foto

Foto : KH. Mukhlis, Pengasuh Ponpes Al-Ikhlas

Foto : Hj. Amiroh, Putri pertama pengasuh Ponpes Al-Ikhlas


Foto-foto :

Foto :  Rumah Pengasuh Ponpes Al-Ikhlas tampak depan

Foto : Asrama/pemondokan putri Ponpes Al-Ikhlas


Foto-foto :
                                                     
Foto : Asrama/pemondokan putra, tampak atas di lantai dua

Foto : Pembangunan asrama tambahan belum selesai


[1] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta : INIS, 1994), h. 55.
[2] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 25.
[3] Wawancara dengan KH. Mukhlas, tanggal 12 September 2011
[4] Wawancara dengan Hj. Amiroh, tgl 12 September 2011
[5] Wawancara dengan KH. Mukhlas, tgl 20 September 2011
[6] Dokumen Ponpes Al-Ikhlas
[7] Dokumen Ponpes Al-Ikhlas
[8] Wawancara dengan Hj. Amiroh, tgl 20 September 2011
[9] Wawancara dengan KH. Mukhlas, tgl 20 September 2011
[10] Wawancara dengan Hj. Amiroh, tgl 12 September 2011
[11] Wawancara dengan Hj. Amiroh, tgl 20 September 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar