Senin, 23 Juli 2012

PENDIDIKAN KARAKTER
Oleh: Sobarudin
Pra Wacana

Membincangkan karakter, maka sama halnya dengan memperbincangkan issu yang menjadi sorotan semua elemen bangsa yang peduli pada perkembangan moral bangsa kedepan. Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan, dapat terlihat di berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik. Selain di media massa, para pemuka masyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, dan pengamat sosial berbicara  karakter bangsa di berbagai forum seminar, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Fenomena yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn politik yang tidak produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar, dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat.
Upaya solusi lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah kemerosotan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif  karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah kemerosotan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.
Berbicara masalah pendidikan maka terkait hal kurikulum, Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidika. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum).
Sementara menurut UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (UU SISDIKNAS. 2003).
Jadi dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah jantungnya pendidikan (curriculum is the heart of education). Oleh karena itu, sudah seharusnya kurikulum, saat ini, memberikan perhatian yang lebih besar pada pendidikan karakter bangsa dibandingkan kurikulum masa sebelumnya. Pendapat yang dikemukakan para pemuka masyarakat, ahli pendidikan, para pemerhati pendidikan dan anggota masyarakat lainnya di berbagai media massa, seminar, dan sarasehan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada awal tahun 2010 menggambarkan adanya kebutuhan masyarakat yang kuat akan pendidikan karakter bangsa. Apalagi jika dikaji,  bahwa kebutuhan itu, secara imperatif, adalah sebagai kualitas manusia Indonesia yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional.
Respon dan kepedulian masyarakat mengenai pendidikan karakter bangsa telah pula menjadi kepedulian pemerintah. Berbagai upaya pengembangan pendidikan karakter bangsa telah dilakukan di berbagai direktorat dan di berbagai lembaga pemerintah, terutama di berbagai unit Kementrian Agama. Upaya pengembangan itu berkenaan dengan berbagai jenjang dan jalur pendidikan walaupun sifatnya belum menyeluruh.
Keinginan masyarakat dan kepedulian pemerintah mengenai pendidikan karakter bangsa, akhirnya berakumulasi pada kebijakan pemerintah mengenai pendidikan karakter bangsa dan menjadi salah satu program unggulan pemerintah, paling tidak untuk masa 5 (lima) tahun mendatang.

Pembahasan

A.  Pengertian Pendidikan Karakter Bangsa
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Dinyatakan bahwa ;
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.(UU SISDIKNAS. 2003)

Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa.
Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah, karakter bangsa, dan pendidikan. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang  terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan  karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Lingkungan sosial dan budaya bangsa Indonesia adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Pendidikan  karakter bangsa merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.
Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan juga bermakna suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan karakter bermakna  suatu  proses pewarisan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan  karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang.
Pendidikan karakter juga bisa berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. (http://www.batararayamedia.com)
Dalam proses pendidikan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat.
Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif.

B.  Landasan Pedagogis Pendidikan Karakter Bangsa
Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpishkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukai budayanya.
Kecenderungan semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan, semakin kuat pula kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik. Pada titik kulminasinya, norma dan nilai secara kolektif pada tingkat makro akan menjadi norma dan nilai bangsa. Dengan demikian, peserta didik akan menjadi warga negara Indonesia yang memiliki wawasan, cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesiaannya.
Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas, “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, aturan dasar yang mengatur pendidikan nasional  (UUD 1945 dan UU Sisdiknas) sudah memberikan landasan yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai anggota masyarakat dan bangsa.
Pendidikan adalah suatu proses akulturasi, berfungsi mewariskan nilai-nilai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. Nilai-nilai dan prestasi itu merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan.
Bertalian dengan ini menurut Sajidan, menyebutkan bahwa Pe­na­nam­an pen­di­dik­an ber­ka­rak­ter tak me­lu­lu ha­nya me­la­lui per­atur­an-per­atur­an yang nor­ma­tif. Le­bih da­ri itu, pen­di­dik pun ha­rus men­ja­di te­la­dan ba­gi sis­wa yang ter­cer­min da­ri akh­lak dan pe­ri­la­ku­nya. (http://sajidan.staff.fkip.uns.ac.id)
Upaya pendidikan  karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar dan karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu pendidikan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.  

C.  Fungsi Pendidikan Karakter Bangsa
Fungsi pendidikan karakter bangsa adalah:
1.    Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter bangsa;
2.    Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
3.    Penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.
D.  Tujuan Pendidikan Karakter Bangsa
Tujuan pendidikan karakter bangsa adalah:
1.     mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai dan karakter bangsa;
2.     mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi bangsa yang religius;
3.     menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4.     mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5.     mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity). (Team Widyaiswara  BDK. 2010).

E.   Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber  berikut ini.
1.     Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
2.     Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.
3.     Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan karakter bangsa.
4.     Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa. 
Berikut  Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter Bangsa
1.   Religius, maknanya Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.   Jujur, maknanya Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan
3.   Toleransi, maknanya Sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4.   Disiplin, maknanya Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.   Kerja keras, maknanya Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6.   Kreatif, maknanya Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki.
7.   Mandiri, maknanya Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.   Demokratis, makanya  Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.   Rasa Ingin Tahun, maknanya Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10.    Semangat Kebangsaan, maknanya Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11.    Cinta Tanah Air, maknanya Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12.    Menghargai Prestasi, maknanya Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.    Bersahabat/Komunikatif, maknanya Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14.    Cinta Damai, maknaya Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15.    Gemar Membaca, maknanya Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.    Peduli Lingkungan, maknanya Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.    Peduli sosial, maknanya Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.     Tanggung Jawab, maknanya Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.(Kemdiknas Balitbang Puskur. 2010).


Kesimpulan

Pendidikan Karakter Bangsa selain mengembangkan dan memperkuat potensi pribadi juga menyaring pengaruh dari luar yang akhirnya dapat membentuk karakter peserta didik yang dapat mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan karakter bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah/kampus melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar baik melalui mata pelajaran/mata kuliah maupun serangkaian kegiatan pengembangan diri yang dilakukan di kelas dan luar sekolah/kampus.
Wujud nyata pembiasaan-pembiasan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dsb. perlu dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat sampai negara. Nilai-nilai tersebut tentunya perlu ditumbuhkembangkan yang pada akhirnya dapat membentuk pribadi karakter peserta didik/mahasiswa yang selanjutnya merupakan pencerminan hidup suatu bangsa yang besar.
Esensi pendidikan karakter bangsa bukan merupakan mata pelajaran/mata kuliah yang berdiri sendiri atau merupakan nilai yang diajarkan, tetapi lebih kepada upaya penanaman nilai-nilai baik melalui mata pelajaran/mata kuliah, program pengembangan diri maupun budaya sekolah/kampus.
Upaya pengembangan pendidikan karakter bangsa ini perlu dilakukan oleh semua pemangku kepentingan di sekolah/kampus yang secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik diterapkan ke dalam kurikulum sekolah/kampus yang selanjutnya diharapkan menghasil budaya sekolah/kampus yang lebih bermartabat.























DAFTAR PUSTAKA
Kemdiknas Balitbang Puskur . 2010, Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa,  Pedoman Sekolah,  Jakarta .
Team Widyaiswara  BDK. 2010. Bahan Ajar. Bandung
Undang-Undang RI. 2003.Undang-Undang RI Tentang SISDIKNAS, Bandung: Citra Umbara.
http://sajidan.staff.fkip.uns.ac.id, diakses tgl 06 Juli 2012 jam 22.00 WIB
http://www.batararayamedia.com, di akses tgl 06 juli 2012 jam 23.15 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum, diakses 07 Juli 2012 jam 10.20 WIB







ISI WAKTU DENGAN BERBUAT


Isi Waktu Dengan Berbuat
Oleh: Sobarudin
Berbarengan  dengan masa liburan sekolah, tidak sedikit siswa atau siapa saja menganggur/ berhenti untuk tidak melakukan rutinitas  aktivitas sebagaimana biasa. Biasanya dari pagi sampai siang di sekolah, kemudian siang sampai sore kegiatan ekstra kulikuler hingga menjelang magrib, kemudian  magrib sudah berangkat lagi ke mushala ataupun Masjid dan seterusnya hingga tiba waktu untuk beristirahat malam.
 Seseorang yang terhenti dari rutinitas kegiatan sehari-hari, biasanya akan menjadi seorang penebar issu dan desas-desus yang tidak bermanfaat. Hal ini di akibatkan akal pikirannya selalu melayang-layang bak layangan yang tak tahu arah yang jelas.
Saat paling berbahaya bagi akal  adalah manakala pemiliknya menganggur dan tak berbuat apa-apa. Orang seperti ini ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, maka akan mudah oleng ke kanan atau ke kiri.
Bila pada suatu hari anda mendapatkan diri kita menganggur tanpa kegiatan, maka bersiaplah untuk bersedih, gundah dan cemas. Sebab dalam kegiatan kosong itulah akal pikiran kita akan menerawang ke mana-mana; mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu kita alami. Dan itu membuat akal pikiran kia tak terkendali dan mudah lepas kontrol. Maka dari itu  marilah kita mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat, akan  lebih baik dari pada larut dalam kekosongan yang  membinasakan. Singkatnya  membiarkan diri kita dalam kekosongan itu sama halnya dengan membunuh diri dan mensuramkan masa depan.
Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara China. Meletakan si narapidana di bawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dan dalam masa penantian yang panjang itulah, biasanya seorang napi akan menjadi stres dan gila.
Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong ibarat pencuri yang culas. Adapun akal kita, tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi yakni kelangahan dan si pencuri culas.
Karena itu bangkitlah sekarang juga, kerjakan solat, baca buku, bertasbih, mengaji, menulis, merapihkan meja, merapihkan kamar, merapihkan rumah  atau berbuatlah sesuatu yang bermafaat bagi diri sendiri dan orang lain, oleh karenanya kita sejatinya tidak berhenti sejenak pun dari melakukan seseuatu yang bermanfaat.ingat waktu tak akan kembali.
Bunuhlah setiap waktu kosong dengan pisau kesibukan, dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan menjamin  bahwa anda telah mencapai  50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan dan para kuli bangunan ! mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung dialam bebas. mereka tidak seperti kita yang tidur diatas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan.
Seseorang yang cerdas tentu saja akan bijaksana untuk mengatur dan mengelola waktu se-efektif dan se-efisien mungkin untuk mengerjakan sesuatu yang lebih baik dan berdampak bagi kebaikan diri pribadi terlebih orang lain. Bukankah “ sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi manusia yang lainya ?“.
Inilah pentingnya mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan  positif, untuk kemudian  tercipta tatanan masyarakat yang kondusif dan berdaya guna, sehingga tidak lagi sebagai generasi yang tidak sayang akan pentingya waktu dan menelantarkan masa depan.



EMPAT PILAR GURU SUKSES


EMPAT PILAR GURU SUKSES
Oleh : Sobarudin
Tulisan sederhana ini tidak bermaksud menggurui tetapi hanya sekedar berbagi informasi pendidikan khususnya bagi rekan-rekan guru. Paling tidak untuk sama-sama merefleksi masing-masing, sudah sejauhmana selama ini proses belajar mengajar di sekolah. Karena tidak jarang sebagian guru terkadang lupa empat pilar berikut dalam menjalankan tugasny. Agar tidak lupa, maka penulis mencoba untuk mengingat kembali akan ke empat hal itu, untuk kemudian dalam proses pembelajaran di hadapan peserta didik sebagai calon pemimpin bangsa ke depan dapat di praktekan.
1.   Ikhlas. Iklhlas secara bahasa berarti tulus, bersih dan lurus. Pengertian secara istilah Ikhlas berarti meluruskan niat dalam hati ketika melakukan suatu perbuatan dengan semata-mata tidak mengharap tujuan lain kecuali ridha Allah. Hal ini akan berimplikasi ketika seorang guru melaksanakan tugas yakni mendidik peserta didik. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual  keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan berbudi mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. (UU RI SISDIKNAS, 2003:3).
Seorang guru yang ikhlas dalam menjalankan tugasnya tidak mudah kecewa ketika menghadapi kendala seperti mendapat perlakuan yang kurang mengenakan hati dari siswa, rekan guru atau kepala sekolah/ketua yayasan.  Guru yang ikhlas akan enjoy,  dalam artian bukan mengesampingkan semua kewajiban dan haknya. Bagi dirinya mengajar/mendidik merupakan panggilan jiwa yang merupakan bentuk pengabdiannya kepada Allah sebagai Tuhannya selama ini.
2.   Sabar. Sabar merupakan suatu sifat yang mesti dimiliki oleh seorang guru. Kita mungkin sering melihat pemberitaan baik itu di media cetak maupun elektronik atau bahkan melihat dengan kasat mata, ada sebagian kecil guru yang memperlakukan peserta didiknya dengan kekerasan fisik. Dengan dalih untuk menegakan disiplin dan menjaga nama baik lembaga. Guru harus memahami benar bahwa karakter dan pembawaan setiap siswa pariatif dengan latar belakang keluarga, ekonomi dan pendidikan yang majemuk. Sehingga pada gilirannya ketika mendidik tentu saja tidak dapat di generalisir tetapi perlu kearifan dan kebijakan.
3.   Cerdas. Maknanya adalah guru harus lebih awal tahu akan bahan ajar atau fenomena yang berkembang ketimbang peserta didik, piawai dalam penyajian bahan ajar di hadapan peserta didik, dimana kredibilitas dan kapabilitas pada tataran ini dipertaruhkan. Sungguhpun tidak mustahil di era serba cepat dan pesat berkat kemajuan teknologi informasi seorang peserta didik bisa saja tahun lebih awal ketimbang gurunya. Bila menghadapi fenomena seperti ini guru janganlah bersikap egois tetapi harus legowo atau lapang dada untuk menerima kenyataan ini. Untuk meminimalisir kejadian ini terjadi pada diri seorang guru maka sejatinya guru tidak boleh gaptek (gagap teknologi) dalam penguasaai TI (Teknologi Informasi). Guru harus rajin berkunjung ke situs-situs pendidikan untuk memperkaya wawasan dan kedalaman materi bahan ajar serta untuk memperkaya cakrawala berpikir ilmiahnya.
4.   Bergembira. Maknanya adalah seorang guru ketika menjalankan tugasnya di sekolah atau lembaga pendidikan harus senantiasa menampilkan wajah yang berseri dan bersahabat. Fakta dilapangan guru yang memiliki tingkat kecerdasan akademik dan kecerdasan finansial itu ketika berwajah tidak bersahabat, maka sepiawai apapun dalam penguasaan dan penyampaian materi tidak akan mendapat respon yang posotif dari peserta didik. Pada sisi yang berbeda seorang guru yang memiliki kecerdasan akademik dan kecerdasan finansial tidak seperti yang disebutkan diatas, tetapi manakala penyampaian materi kepada peserta didik dia senantiasa berwajah ceria, murah senyum dan telaten dalam pengajarannya, jauh akan mendapat respon yang positif dari peserta didik. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa akhlak seorang guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu proses pendidikan.
Kesimpulan
Pendidikan akan senantiasa berlangsung selama peradaban manusia ada, oleh karenanya guru harus senantiasa menyiapkan berbagai hal yang tersangkutan dengan dunia pendidikan sebagai pengejawantahan dan konsekwensi sebagai tenaga profesional. Guru yang senantiasa merasa kurang dengan berbagai kecerdasan, baik (akademik, sosial, emosional, spiritual dan pinansial) selama ini, untuk kemudian terus berusaha menambah apa yang menjadi kekurangan dirinya merupakan satu bukti titik terang pendidikan kedepan akan semakin baik dan maju.
Perhatian pemerintah untuk kemajuan pendidikan harus semakin terus di tingkatkan dengan bukti anggaran untuk sektor pendidikan di APBN dan APBD semakin meningkat dari tahun tahun sebelumnya. Demikian semoga pendidikan dinegeri ini semakin maju dengan para guru yang kompeten dan profesional dalam tugasnya, semoga.....