Jumat, 24 Februari 2012

KONSEP MANUSIA


KONSEP MANUSIA, PENGETAHUAN DAN
 TENAGA PENDIDIK SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP
 PENGEMBANGAN METODE KEBERAGAMAAN

Pendahuluan
Manusia disebut “Homo Sapiens”. Artinya, makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia adalah selalu cenderung ingin mengetahui segala sesuatu disekelilingnya, yang belum diketahuinya.

            Dalam hidupnya manusia digerakan sebagian oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu, dan sebagian lagi oleh tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Manusia bukan hanya mempunyai kemampuan-kemampuan, tetapi juga mempunyai keterbatasan-keterbatasan, dan juga tidak hanya mempunyai sifat-sifat yang baik, namun juga mempunyai sifat-sifat yang kurang baik.

            Manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan hidup dan menjaga kehidupan lebih baik. Ini merupakan naluri yang paling kuat dalam diri manusia. Pancasila sebagai falsafah hidup manusia Indonesia, memberikan pedoman bahwa kehidupan manusia didasarkan atas keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai individu, hubungan manusia dengan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan bangsa dengan bangsa, dan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.

          Ajaran Islam memandang manusia sebagai tubuh, akal dan hati nurani. Potensi dasar manusia yang dikembangkan itu, tidak lain adalah bertuhan dan cenderung kepada kebaikan bersih dari dosa, berilmu pengetahuan serta bebas memilih dan berkreasi. kemampuan kreatif manusia pun berkembang secara bertahap sesuai ukuran tingkat kekuatan dan kelemahan unsur penunjang kreativitas seperti pendengaran, penglihatan serta pikiran. Sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi, manusia dituntut mampu mengelola alam dengan beragam ilmu pengetahuan.

          Tampaklah bahwa manusia itu sangat membutuhkan pendidikan. Karena melalui
pendidikan manusia dapat mempunyai kemampuan-kemampuan mengatur dan mengontrol serta menentukan dirinya sendiri. Melalui pendidikan pula perkembangan kepribadian manusia dapat diarahkan kepada yang lebih baik. Dan melalui pendidikan kemampuan tingkah laku manusia dapat didekati dan dianalisis secara murni.
                                       
 MANUSIA, PENGETAHUAN DAN TENAGA PENDIDIK
A. Proses Kejadian Manusia dan Nilai-nilai Pendidikan yang terkandung didalamnya.
1. Kandungan makna “khalaqa” dan “ja’ala” dalam konteks pembicaraan kejadian manusia.
Kata khalaqa dalam alquran di artikan sebagai penciptaan sesuatu tanpa asal atau pangkal dan tanpa contoh terlebih dahulu seperti ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan alam semesta ini dapat juga berarti “i-jaad al-syai’ min al-syai”, yakni menciptakan sesuatu dari sesuatu. Sedangkan kata ja’ala yang biasa diartikan “menjadikan”, merupakan lafadz yang bersifat umum, yang berkaitan dengan semua aktifitas dan perbuatan-perbuatan.

Menurut M. Quraisy Shihab (1987) bahwa penggunaan kata “khalaqa” dengan berbagai bentuknya mengandung suatu aksentuasi (titik berat/penekanan) yang berbeda dengan kata “ja’ala”. Kata “khalaqa” memberikan aksentuasi tentang kehebatan dan kebesaran atau keagungan Allah dalam ciptaannya. Sedangkan kata ja’ala mengandung kata aksentuasi terhadap manfaat yang harus atau dapat di peroleh dari Sesuatu yang dijadikan itu.

2. Proses penciptaanya/kejadian manusia
Ada beberapa ayat alquran yang berbicara tentang reproduksi manusia menegaskan bahwa manusia tercipta dari sesuatu yang merupakan asal baginya, yaitu dari tanah atau dari saripati yang berasal dari tanah.
Menurut Quraish Shihab (1987) sewaktu menyitir Q.S. Al-Mu’minum ayat 12-14, beliau menyimpulkan bahwa proses kejadian manusia secara fisik/materi ada lima tahap, yaitu (1) nuthfah ; (2)’alaqah; (3)mudlghah atau pembentuk organ-organ penting, yang dalam Q.S Al-Hajj ayat 5 ditegaskan adanya mudlghah mukhallaqah (mudlghah yang berbentuk secara sempurna) dan mudlghah ghoiru mukhallaqah (mudlghah yang cacat atau tidak terbentuk secara sempurna); (4)’idham (tulang); dan (5) lahm (daging).
Setelah melalui berbagai evolusi tersebut, kemudian menjelma menjadi makhluk yang berbentuk lain, yang menurut alquran disebut sebagai khalqan akhar. Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud “tsumma ansya’naahu khalqan akhar” adalah kemudian Tuhan meniupkan ruh ke dalam diri manusia sehingga ia bergerak dan menjadi makhluk lain (berbeda dengan sebelumnya) yang memiliki pendengaran, penglihatan, indera yang menangkap pengertian, gerakan dan sebagainya.
Para embriolog menamakan periode pertama dari proses kejadian manusia itu dengan “periode ovum”, dimana pertemuan antara sel kelamin bapak (sperma) dan sel kelamn ibu (ovum) bersatu kedua intinya dan membentuk suatu zat baru dalam rahim ibu, atau dalam Al-Quran dinamai “fiqaraarin makiin” (dalam suatu tempat yang kokh)
Menurut Maurice Bucaille; yang menyebabkan pembuahan telur atau memungkinkan reproduksi adalah sebuah sel panjang yang besarnya 1/10.000 milimeter. Satu dari beberapa sel yang dikeluarkan oleh manusia dalam keadaan normal dapat masuk dalam telur wanita (ovule). Sebagian besar tetap di jalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari kelamin wanita sampai ke telur (ovule) di dalam uterus dan trompe, dengan demikian hanya sebagian kecil dari cairan yang menunjukkan aktivitas sangat kompleks.
Pembuahan dari hasil pertemuan itu dan yang menghasilkan zat tersebut membelah menjadi dua, kemudian empat, kemuduan delapan, dan seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan, dan melekat, berdempet serta masuk ke dinding rahim.
Tahap ‘laq/ ‘alaqah tersebut merupakan tahap atau periode penting dalam proses kejadian manusia. Sementara embriolog menyatakan bahwa apabila hasil pembuahan tersebut tidak berdempet atau tidak tergantung di dinding rahim maka keguguran akan terjadi. Atau apabila ketergantungan atau pendempetannya tidak kokoh maka bayi yang dilahirkan menderita cacat sejak lahir. (M. Quraish Shihab, 1987).
Tahap berikutnya adalah tahap mudlghah. Ibnu Katsir (1981,111) memberikan pengertian mudlghah sebagai “qith’ah ka al-bidl’ah min al-lahm la syakl fiha wala takhthith”, yakni sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran.
Pada proses selanjutnya, mudlghah tersebut dijadikan sebagai tulang (‘idham). Menurut Al-Maraghi bahwa di dalam mudlghah terkandung beberapa unsur, di antaranya terdapat elemen-elemen/bahan-bahan yang membentuk tulang, sehingga bisa menjadi tulang, ia juga mengandung elemen-elemen yang membentuk daging (lahm), dan bahan-bahan makanan yang dicerna oleh manusia juga mengandung kedua unsur tersebut dan merupakan sumber terbentuknya darah. Sedangkan elemen-elemen daging yang ada pada mudlghah tersebut menjadi daging segar (lahm), yang kemudian dijadikan sebagai pembungkus tulang. Daging (lahm) tersebut mengikuti bentuk rangka yang menggambarkan bentuk manusia.
Menurut Sayyid Qutub (1971) pada tahap tersebut manusia memiliki ciri-ciri yang istimewa. Dalam hal pertumbuhan manusia secara fisik, janin manusia itu serupa dengan janin hewan. Tetapi janin manusia membentuk makhluk lain dan berubah menjadi makhluk yang istimewa, yang siap untuk berkembang mencapai kemajuan. Sedangkan hewan tetap dalam martabat hewan, yang terlepas dari cirri-ciri tertentu yang dimiliki oleh janin manusia tersebut. Dengan kata lain tahap inilah yang merupakan tahap yang maembedakan antara manusia dengan hewan
3. Nilai-nilai pendidikan dalam proses kejadian manusia
Dari beberapa uraian tentang proses kejadian manusia tersebut, maka dapat ditemukan nilai-nilai pendidikan yang perlu dikembangkan dalam proses pendidikan islam, yaitu berikut ini
Pertama, salah satu cara yang ditempuh dalam Al-Quran dalam menghantarkan manusia untuk menghayati petunjuk-petunjuk Allah ialah dengan cara memperkenalkan jati diri manusia itu sendiri, bagaimana asal kejadiannya, dari mana datangnya, dan bagaimana dia hidup, ini sangat perlu untuk di ingatkan kepada manusia melelui proses pendidikan, sebab gelombang hidup dan kehidupan, seringnkali menyebabkan manusia lupa diri
Kedua, ayat-ayat yang menyangkut proses kejadian manusia tersebut secara emplisit mengungkan pula kehidupan, kehebatan, kebesaran, dan keagumgan Allah SWTdalam menciptakan manusia, sebagaimana ditunjukkan pula oleh ALLah pada ayat-ayat lain tentang kebesaran dan kehebatanNya dalam menciptakan alam semesta ini. Pendidikan dalam islam antara lain diarahkan kepada peningkatan iman, pengembangan wawasan atau pemahaman serta penghayatan secara mendalam trhadap tanda-tanda keagungan dan ke besaranNya sebagai sang maha pencipta.
Ketiga, proses kejadian manusia menurut Al-Quran pada dasarnya melalui dua proses dengan enam tahap, yaitu proses fisik/materi/jasadi (dengan lima tahap), dan proses non-fisik imateri(dengan satu tahapa tersendiri). Secara fisik, manusia berproses dari nutfah, kemudian ‘alaqah, mudlghah,’idham, dan lahm yang membungkus ‘idham atau mengikuti bentuk rangka yang menggambarkan bebtu manusia. Sedangkan secara non-fisik atau imateri, yaitu merupakan tahap penghembusan atau peniupan roh pada diri manusia sehingga ia berbeda dengan makhluk lainnya. Pada saat itu manusia memiliki berbagai potensi, fitrah, dan hikmah yang hebat baik lahir maupun bathin; bahkan pada setiap anggota tubuhnya, yang dapat dikembangkan menuju kemajuan peradaban manusia. Pendidikan dalam islam, antara lain diarahkan kepada pengembangan jasmani dan rohani manusia secara harmonis, serta pengembangan fitrah manusia secaraterpadu
Keempat, proses kejadian manusia yang terkanduang dalam Al-Quran tersebut ternyata semakin diperkuat oleh penemuan-penemuan ilmiah, sehingga lebih memperkuat keyakinan manusia akan kebenatan aAl-Quran sebagai wahyu dari Allah SWT bukan buatan atau ciptaan nabi Muhammad. Pendidikan dalam islam, diantara lain diarahkan kepada pengembangan semangat ilmiah untuk mencari dan menemukan kebenaran ayat-ayatnya.
B. Potensi-potensi Dasar Manusia dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Dari kajian tentang proses kejadian manusian tersebut dapat ditarik pengertian bahwa manusia itu terdiri atas dua substansi, yaitu (1) substansi jasad atau materi, yang bahan dasarnya dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunnatullah (aturan, ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta ); (2) substansi imateri atau non jasadi, yaitu penghembusan atau peniupan ruh (ciptaanNya) kedalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakikat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah
.
Dari kedua substansi tersebut maka yang paling esensial adalah substansi imateri atau ruhnya. Manusia memang terdiri atas jasad dan ruh, tetapi yang hakikat dari kedua substansi itu adalah ruh.
Manusia yang terdiri atas dua substansi itu, telah dilengkapi dengan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau disebut fitrah yang harus diaptualkan atau ditumbuh kembangkan dalam kehidupan nyata di dunia ini melalui proses pendidikan, untuk selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak di akhirat.
1. Alat-alat potensial manusia
a. AL-lams dan al-syum (alat peraba dan alat penciuman/pembau)
b. Al-syam’u (alat pendengaran). Penyebutan alat ini dihubungkan dengan penglihatan dan qolbu, yang menunjukkan adanya saling melengkapi dari berbagai alat itu untuk mencapai ilmu pengetahuan
      c. AL-abshar (penglihatan) Banyak ayat Al-Quran yang menyaeru manusia untuk melihat dan merenungkan apa yang dilihatnya, sehimgga dapat mencapai hakikatnya.
d. Al-‘aql (akal atau daya berfikir). Al-Quran memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan akal dalam berfikir
e Al-qalb (kalbu), hal ini termasuk dalam hal ma’rifah yang digunakan manusia untuk dapat mencapai ilmu.
2.Potensi-potensi Dasar atau Fitrah Manusia
Ditinjau dari segi bahasa , Fitrah berarti : “ciptaan, sifat tertyentu yang mana setiap yang maujud disifati dengannya pada awal masa penciptaanya, sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir), agama,as-sunnah”
Manusia menurut islam dilahirkan dengan potensinya yang fitri. Konsep fitrah menunjukkan bahwa manusia membawa sifat dasar kebaikan, bahkan keimanan akan keesaanNya, atau potensi dasar Tauhid, yang kemudian akan menjadi landasan semua perilakunya.
Sedangkan maksud fitrah Allah, sebagaimana dalam Q.S. Al Rum ayat 30 dinyatakan:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang benar, terpendam tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.
Adalah suatu kekuatan/daya untuk mengenal atau mengakui Allah (keimanan kepada-Nya) yang menetap/menancap di dalam diri manusia. Dengan demikian, makna fitrah adalah suatu kekuatan atau kemampuan (potensi terpendam) yang menetap pada diri manusia/menancap pada diri manusia sejak awal kejadiannya, untuk komitmen terhadap nilai-nilai keimanan kepada-Nya, cenderung kepada kebenaran (hanif), dan potensi itu merupakan ciptaan Allah. Sebagian sifat-sifat ketuhanan yang menancap pada diri manusia dan dibawanya sejak lahir itulah yang disebut fitrah. Misalnya al-‘Aliim (maha mengetahui), manusia juga diberi kemampuan/potensi untuk mengetahui sesuatu dll.
Bila ditinjau dari aspek tersebut maka fitrah manusia itu cukup banyak macamnya. Ada baiknya disini hendak dikemukakan yang terpenting diantaranya, yaitu (1) fitrah beragama : fitrah ini merupakan potensi bawaan yang mendorong manusia untuk selalu pasrah,tunduk dan patuh kepada tuhan yang menguasai dan mengatur segala aspek kehidupan manusia; dan fitrah ini merupakan sentral yang mengarahkan dan mengontrol prkembangan fitrah-fitrah lainnya; (2) fitrah berakal budi: fitrah ini merupakan potensi bawaan yang mendorong manusia untuk berfikir dan berdzikir dalam memahami tanda-tanda keagungan Tuhan yang ada di alam semesta, berkreasi dan berbudaya, serta memahami persoalan dan tantangan hidup yang dihadapinya dan berusaha memecahkannya; (3) fitrah kebersihan dan kesucian: fitrah ini mendorong manusia untuk selalu komitmen terhadap kebersihan dan kesucian diri dan lingkungannya; (4) fitrah bermoral/berakhlak: fitrah ini mendorong manusia untuk komitmen terhadap norma-norma atu nilai-nilai dan aturan yang berlaku; (5) fitrah kebenaran: fitrah ini mendorong manusia ntuk selalu mencari dan mencapai kebenaran; (6) fitrah kemerdekaan: fitrah ini mendorong manusia untuk bersikap bebas/merdeka, tidak terbelenggu dan tidak mau diperbudak oleh sesuatu yang lain kecuali oleh keinginannya sendiri dan kecintaannya kepada kebaikan; (7) fitrah keadilan: fitrah ini mendorong manusia untuk berusaha menegakkaan keadilan di muka bumi; (8) fitrah persamaan dan persatuan: fitrah ini mendorong manusia untuk mewujudkan persamaan hak serta menentang diskriminasi ras, etnik, bahasa dan sebagainya, dan berusaha menjalin kesatuan dan persatuan di muka bumi; (9) fitrah individu: fitrah ini mendorong manusia untuk brsikap mandiri, bertanggungjawab atas segala tindakan yang dilakukan, mempertahankan harga diri dan kehormatannya serta menjaga keselamatan diri dan hartanya; (10) fitrah sosial: mendorong manusia untuk hidup bersama, bekerjasama, bergotongroyong, salingmembantu dan sebagainya; (11) fitrah seksual: mendorong seseorang untuk mengembangkan keturunan (berkembang biak) dan mewariskan tugas-tugas kepada generasi penerusnya; (12) fitrah ekonomi: mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui aktivitas ekonomi; (13) fitrah politik: mendorong manusia untuk berusaha menyusun suatu kekuasaan dan institusi yang mampu
Melindungi kepentingan bersama; (14) fitrah seni: mendorong manusia untuk menghargai dan mengembangkan kebutuhan seni dalam kehidupannya; dan fitrah-fitrah lainnya.
3. Implikasi potensi dasar manusia terhadap pendidikan
Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan /kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut. Namun demikian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak bias dilepaskan dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam,hukum yang mengusai benda-benda maupun masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung pada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut dengan taqdir (“Keharusan Universal” atau “Kepastian Umum” sebagai batas akhir dari ikhtiar manusia dalam kehidupannya di dunia).
Dalam alquran dijumpai banyak ayat yang menggambarkan sifat-sifat hakiki manusia, yang mempunyai implikasi baik terhadap tujuan maupun cara pengarahan perkembangannya. Di samping itu juga penting implikasinya bagi pendidikan adalah tanggung jawab bersifat pribadi (QS.35:18). Dari pandangan ini, dapatlah disimpulkan bahwa manusia dilahirkan dengan membawa “potensi bawaan” tertentu, dan dengan potensi itu manusia dapat berkembang secara aktif dalam interaksinya dengan lingkungan dengan bantuan dan pengarahan yang sengaja dari pihak pendidik
Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itujuga dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosiokultural, sejarah dan faktor-faktor temporal. Dalam ilmu pendidikan , faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan itu ada 5 (lima) macam, yang saling berkaitan dan berpengaruh antara satu faktor dengan faktor lainnya, yaitu faktor tujuan, Pendidik, peserta didik, alat pendidikan dan milieu lingkungan. Karena itulah minat, bakat dan kemampuan, skill dan sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang dicapai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut bermacam-macam.
C.Tugas kehidupan manusia terhadap fungsi pendidikan
Dalam perjalanan hidup dan kehidupan manusia, manusia mempunyai amanah atau tugas-tugas kewajiban dan tanggungjawab yang telah dibebankan oleh Allah agar dipenuhi dan dipelihara dengan sebaik-baiknya
Al-Maraghi mengemukakan bahwa amanah itu bermacam-macam bentuknya, yaitu:
a. Amanah hamba terhadap Tuhannya; yakni suatu yang harus dipelihara dan dijaga oleh manusia, yang berupa mengerjakan perintah dan meninggalkan atau menjauhi larangannya, serta menggunakan potensi dan anggota badannya dalam berbagai aktivitas yang menghasilkan manfaat.
b. Amanah hamba terhadap manusia; misalnya mengembalikan barang-barang yang dipinjam atau yang dititipkan pada pemiliknya. Tidak merusak atau menipu orang lain.
c. Amanah manusia tehadap dirinya sendiri; yakni berusaha berkelakuan baik yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan agama, tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan akhiratny
Dalam Al-quran Allah berfirman yang mencakup tentang amanah yaitu pada (Q.S. Al-Ahzab:72).
Muhammad Husain Aththabathab’I menafsirkan tentang ayat tersebut, bahwa amanah mempunyai pengertian yang sangat banyak, yaitu
a. Tugas-tugas atau beban kewajiban, maksudnya apabila orang itu mau mematuhi dan mengerjakan apa yang telah diperintahkan, maka akan masuk surga, dan sebaliknya.
b. Akal, yaitu merupakan sendi bagi pelaksanaan tugas-tugas atau beban kewajiban dan tempat tergantungnya pahala dan siksa
c. Kalimat, anggota-anggota badan misalnya. alat potensial atau potensi dasar manusia, yang mampu mengembangkan dan melepas amanah
d. Ma’rifah kepada Allah
Dari beberapa pendapat ahli tafsir dapat dipahami bahwa tugas manusia yang merupakan amanah dari Allah, pada intinya ada dua macam, yaitu
1.Abdullah (menyembah atau mengabdi pada Allah).
Realisasi dari mengemban amanah dalam arti memelihara beban atau tugas-tugas kewajiban dari Allah yang harus dipatuhi, kalimat La ilaah illa Allah, dan ma’rifah kepada Allah.
2. Khalifah Allah (yang harus dilakukan dengan penuh tanggungjawab).
Realisasi dari mengemban amanah dalam arti memelihara, memanfaatkan atau mengoptimalkan penggunaan segala anggota badan, alat-alat potensial (termasuk indra dan akal) atau potensi-potensi dasar manusia, guna menegakkan keadilan, kemakmuran dan kebahagiaan  hidup.
Khalifah berasal dari kata”khalf” (menggantikan), sedangkan arti khalifah berarti menggantikan yang lain. Allah berfirman dalam (Q.S.Fathir:39) “Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi”
Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi ini antara lain, untuk menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi ini (Q.S. Hud:61) serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (Q.S. Al-Maidah:16).
Dari semua penggalan-penggalan al-quran diatas sudah mencermikan bahwa tugas khalifah merupakan tugas suci dan amanah dari Allah, sejak manusia pertama sampai pada akhir zaman yang akan datang, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepadanya (Abdullah).
Dari keterangan diatas, dapat ditegaskan bahwa pendidikan dalam islam antara lain untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanah dari Allah, yaitu menjalankan tugas hidupnya di bumi, baik sebagai “Abdullah” ataupun sebagai “Khalifah Allah”
D. Potensi-Potensi Negative Manusia dan Tugas Pendidikan
Pada uraian terdahulu telah banyak di jelaskan tentang segi- segi positif dari manusia jika di bandingkan dengan makhluk lainnya. Namun demikian manusia juga mempunyai sifat-sifat negative. Dalam uraian barikut akan di jeleskan sifat-sifat negative atau kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri manusia
Di dalam al-qur’an telah di jelaskan bahwa manusia disamping banyak dipuji juga banyak di cela. Celaan atau cercaan tersebut merupakan cerminan dari segi-segi negative yang dimiliki oleh manusia tersebut.diantara cercaan dan sekaligus mencerminkan kekurangan dan dan kelemahan manusia adalah; manusia adalah amat dholim dan bodoh sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al- Ahzab ayat 72 “sesungguhnya manusia itu amat dholim dan bodoh”
1.Manusia itu suka menganiaya diri sendiri, dalam arti mempunyai sifat yang suka membangkang. Tidak mau meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak mau tat dak tundukterhadap Allah dan Nabi-Nya sehingga merugikan dirinya sendiri.
2. Manusia adalah makhluk yang lemah tidak mempunyai daya dan kekuatan sendiri melainkan hanya Alloh yang memberikan daya dan kekuatan (Q.S.Al-Nisak;28 Al kahfi;39) karna itu tidak sepantasnya untuk berlaku sombong dan lupa diri, baik sombong karna kekayaan, jabatan, hasil budaya ilmu nya dan lain-lain. Justru kesombongan merupakan cermin dari kekerdilan dirinya.
2.               3. Manusia adalah makhluk yang banyak membantah dan menentang ajaran Alloh yang telah menciptakannya dan yang telah memberi berbagai macam nikmat (Q.S.Al-kahfi) ia telah di berikan akal alat potensial misalnya panca indra, akal pikiran dan lain-lain. Tapi semua itu justru di pakai untuk membantah kebeneran ajaran islam atau Tuhan.
4. Manusia di beri sifat tergesa-gesa (Q.S.Al-isrok;11) dalam arti suka menuntut sesuatu kebaikan dan keuntungan apa saja dengan segera dan suka mengambil jalan pintas dalam meraih sesuatu atas dorongan hawa nafsunya.
5. Manusia adalah mudah lupa dan banyak salah. Manusia di sebut sebagai insan (bahasa arab) serumpun dengan kata nisyan yang berarti lupa atau lalai. Sifat ini harus di akui oleh manusia, agar dirinya tidak bersikap angkuh dan sombong. Sebaliknya ia justru di harapkan untuk bersedia mengakui kesalahan dan kelupaannya dengan jalan kembali pada jalan yang benar atau bertaubat.
6. Manusia itu sering mengingkari nikmat (Q.S.Al-hajj;66) dan mengingkari kebenaran ajaran Alloh (Q.S. Al-isro’). Manusia telah di beri berbagai nikmat oleh Alloh agar disyukuri oleh manusia, manusia sudah di beri petunjuk oleh Alloh berupa jalan yang benar dan di ridhoi Nya tapi kebanyakan manusia masih mengingkarinya.
7. Manusia itu mudah gelisah dan banyak keluh kesah serta sangat kikir(Q.S. Al maarij;19-21, Al-isro’ 100) dalam arti manusia itu mudah cemas dan tidak tahan dalam menghadapi musibah tetapi jika di beri rachmat oleh Alloh yang berupa rizki yang melimpah maka dia bersifat serakah, loba, dan sangat kikir, tidak memiliki kepedulian social.
Dengan adanya berbagai sifat negative dan kelemahan manusia tersebut maka akan menyadarkan diri manusia untuk lebih memperhatikan eksistensi dirinya yang serba terbatas, jika di bandingkan dengan Sang Maha Pencipta yang tidak terbatas. Karena itu pendidikan dalam islam antara lain bertugas untuk membimbing dan mengarahkan manusia akan menyadari akan eksistensi dirinya sebagai manusia yang serba terbatas serta menumbuhkembangkan sikap iman dan taqwa kepada Alloh. Di samping itu pendidikan juga bertugas untuk membimbing dan mengerahkan manusia agar dapat mengendalikan diri dan menghilangkan sifat-sifat negative yang melekat pada dirinya agar tidak sampai mendominasi dalam kehidupannya, sebaliknya sifat-sifat positifnya yang tercermin dalam kepribadiannya.

STUDI ISLAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI


STUDI ISLAM PENDEKATAN ANTROPOLOGI
                                                      Oleh: Sobarudin
1.   Pendahuluan
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologis dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. Antropologi lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif.
Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.
 Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai common sense dan religious atau mystical event. Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi, sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauan kemampuan nalar maupun teknologi.
Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidak akan lengkap tanpa memahami manusia. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, makna hakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Oleh karena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan, Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia.

2.   Tradisi Antropologi dalam Kajian Agama: Kajian Empirik Relasi Agama dan Sosial
Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan, tradisi antropologi untuk mengkaji agama, terutama abad ke 16 dan 17, berkembang dengan pesat.
Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya, dengan mempelajari wacana, pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama, dirasakan juga oleh mereka yang beragama. Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia, tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah "takdir sosial" yang tak perlu lagi dipahami.
Sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya olah pikir manusia tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayah-wilayah lain. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia, jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat, menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang dapat diikuti oleh manusia. Lahirnya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama.
Sebagai fenomena universal yang kompleks, keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial, tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial..
Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis; intellectualist, structuralist, functionalist dan symbolist. Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat
Walaupun definisi agama ini sangat sederhana, definisi ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis. Makanya kecenderungan tradisi intelektualisme ini kemudian meneliti dari sudut perkembangan agama dari yang anismisme menuju monoteisme.
Sementara itu pandangan Durkheim tentang fungsi dalam masyarakat sangat berpengaruh dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Pandangan Durkheim yang mengasumsikan bahwa masyarakat saling terikat satu dengan yang lain, telah mendorong para antropolog untuk melihat fungsi agama dalam masyarakat yang seimbang tersebut. Fungsi psikologi agama, sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama sebagai penguat solidaritas manusia menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme.
Dalam setiap kali menyelesaikan persoalan-persoalannya, manusia menggunakan kemampuan rasionalitas dan penciptaan teknologi. Ketika sebuah masyarakat traditional Suku Trobiand di daerah pesisir Papua Nugini menemukan bahwa ladangnya telah dirusak oleh babi hutan, maka dengan kemampuan rasionalitas dan penguasaan teknologinya masyarakat suku Trobiand membuat pagar agar babi tak dapat lagi masuk ke ladangnya. Namun ketika hendak berburu ikan di lautan, dimana gelombang lautan dan cuaca yang tidak dapat mereka kontrol dengan kemampuan rasionalitas dan teknologi, mereka menggunakan agama sebagai pemecahnya. Maka sebelum mereka berlayar, mereka melakukan ritual dengan sesaji sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual.
Teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim, walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol.
 Dalam pandangan ilmu sosial, pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya, melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris, sebagaimana realitas sosial lainnya, sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, tentu hal-hal yang empirislah, walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting, yang menjadi perhatian kajian sosial.
Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia, maka sesungguhnya persoalan-persoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia adalah realitas ketuhanan. Tanpa memahami realitas manusia-termasuk di dalamnya adalah realitas sosial budayanya-pemahaman terhadap ketuhanan tidak akan sempurna, karena separuh dari realitas ketuhanan tidak dimengerti. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia, yang itu menjadi pusat perhatian antropologi, menjadi sangat penting.
Pentingnya mempelajari realitas manusia ini juga terlihat dari pesan Al-Qur'an ketika membicarakan konsep-konsep keagamaan. Al-Qur'an seringkali menggunakan "orang" untuk menjelaskan konsep kesalehan. Misalnya, untuk menjelaskan tentang konsep takwa, Al-Qur'an menunjuk pada konsep "muttaqien", untuk menjelaskan konsep sabar, Al-Qur'an menggunakan kata "orang sabar" dan seterusnya. Kalau kita merujuk pada pesan Qur'an yang demikian itu sesungguhnya, konsep-konsep keagamaan itu termanifestasikan dalam perilaku manusia. Oleh karena itu pemahaman konsep agama terletak pada pemahaman realitas kemanusiaan.
Dengan demikian realitas manusia sesungguhnya adalah realitas empiris dari ketuhanan. Dan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia adalah cerminan dari permasalahan ketuhanan. Maka mempelajari realitas manusia, dengan segala aspeknya, adalah mempelajari Tuhan (agama) dalam realitas empiris. Kenyataan bahwa realitas manusia-yang tercermin dalam bermacam-macam budaya-beragam, maka diperlukan kajian cross culture untuk melihat realitas universal agama.
3.   Agama Sebagai Sistem Budaya
Geertz adalah orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah system budaya. Karya Geertz, "Religion as a Cultural System," dianggap sebagai tulisan klasik tentang agama. Pandangan Geertz, saat itu ketika teori-teori tentang kajian agama mandeg pada teori-teori besar Mark, Weber dan Durkheim yang berkutat pada teori fungsionalisme dan struktural fungsionalisme, memberikan arah baru bagi kajian agama. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari system budaya, Geertz berkayinan bahwa agama adalah system budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. Walaupun Geertz mengakui bahwa ide yang demikian tidaklah baru, tetapi agaknya sedikit orang yang berusaha untuk membahasnya lebih mendalam.
Geertz menerapkan pandangan-pandangannya untuk meneliti tentang agama dalam satu masyarakat. Karya Geertz yang tertuang dalam The Religion of Java maupun Islam Observed merupakan dua buku yang bercerita bagaimana agama dikaji dalam masyarakat. Buku The Religion of Java memperlihatkan hubungan agama dengan ekonomi dan politik suatu daerah. Juga bagaimana agama menjadi ideologi kelompok yang kemudian menimbulkan konflik maupun integrasi dalam suatu masyarakat. Sementara itu Islam Observed ingin melihat perwujudan agama dalam masyarakat yang berbeda untuk memperlihatkan kemampuan agama dalam mewujudkan masyarakat maupun sebagai perwujudan dari interaksi dengan budaya lokal.

4.   Pendidikan Islam Dalam Pendekatan Antropologi
Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa. Pada era dewasa ini, antropologi dipergunakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri, di negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat.
Sebagai suatu disiplin ilmu yang cakupan studinya cukup luas, maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna dan global. Sehingga, antropologi terfregmentasi menjadi beberapa bagian yang masing-masing ahli antropologi mengkhususkan dirinya pada spesialisasi bidangnya masing-masing. Pada tataran ini, antropologi menjadi amat plural, sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalam mengarahkan studinya untuk lebih memahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih komprehensif. Masih berhubungan dengan ini pula, ada bermacam-macam antropologi seperti antropologi ekonomi, antropologi politik, antropologi kebudayaan, antropologi agama, antropologi pendidikan, antropologi perkotaan, dan lain sebagainya
Dan dalam studi kependidikan yang dikaji melalui pendekatan antropologi, maka kajian tersebut masuk dalam sub antropologi yang bias dikenal menjadi antropologi pendidikan. Artinya apabila antropologi pendidikan dimunculkan sebagai suatu materi kajian, maka yang objek dikajiannya adalah penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan yang diperoleh khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Dengan demikian, kajian materi antropologi pendidikan, bukan bertujuan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi. Meskipun berkemungkinan ada yang menjadi antropolog pendidikan setelah memperoleh wawasan pengetahuan dari mengkaji antropologi pendidikan.
Karakteristik dari antropologi pendidikan Islam adalah terletak pada sasaran kajiannya yang tertuju pada fenomena pemikiran yang berarah balik dengan fenomena Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendidikan Agama Islam arahnya dari atas ke bawah, artinya sesuatu yang dilakukan berupa upaya agar wahyu dan ajaran Islam dapat dijadikan pandangan hidup anak didik (manusia). Sedangkan antropologi pendidikan Islam dari bawah ke atas, mempunyai sesuatu yang diupayakan dalam mendidik anak, agar anak dapat membangun pandangan hidup berdasarkan pengalaman agamanya bagi kemampuannya untuk menghadapi lingkungan. Masalah ilmiah yang mendasar pada Pendidikan Agama Islam adalah berpusat pada bagaimana (metode) cara yang seharusnya dilakukan. Sedangkan masalah yang mendasar pada antropologi pendidikan Islam adalah berpusat pada pengalaman apa yang ditemui.
Ibnu Sina, yang kita kenal sebagai tokoh kedokteran dalam dunia Islam ternyata juga merupakan sorang pemerhati pendidikan anak usia dini yang merupakan pengalaman pertama anak. Ibnu Sina banyak memaparkan tentang pentingnya pendidikan usia dini yang dimulai dengan pemberian “nama yang baik” dan diteruskan dengan membiasakan berperilaku, berucap-kata, dan berpenampilan yang baik serta pujian dan hukuman dalam mendidikan anak. Dan juga yang paling urgen adalah penanaman nilai-nilai sosial pada anak seperti rasa belas kasihan (confession) dan empati terhadap orang lain.
                                                                              
5.   Studi  Islam Pendekatan antropologi di Indonesia
Di Indonesia usaha para Antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi-abangan, santri dan priyayi-di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik..
Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religio-kulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan politik. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok, ketika dihadapkan pada realitas politik, yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri.
Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi, ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan, priyayi dengan partai nasionalis, dan kaum santri memilih partai-partai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan.
Teori politik aliran ini, menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacana tentang hubungan antara agama-khususnya Islam-dan negara. Teori politik aliran dapat digunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis) pengelompokkan religio-sosial di Indonesia.
Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi di Indonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama dan masyarakat secara luas. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antara agama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnya yang terjadi dalam masyarakat. Melihat agama di masyarakat, bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan, diinterpretasi, dan diyakini oleh penganutnya. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan.
Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antarbudaya memungkinkan masing-masing budaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. Ungkapan terkenal James Clifford tentang runtuhnya "mercu suar" untuk mengklaim suatu kenyataan dengan ukuran rasionalitas Barat, menunjukkan bangkitnya "pengetahuan lokal" di era posmodernisme. Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budaya dunia atau akan munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia, menjadi sangat penting.
Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam, maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. Pertama, penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik, artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social context yang melingkupi agama. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya, dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna.
Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia, maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. Kebudayaan, sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia, adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia.
Kajian antropologi juga memberikan fasilitas bagi kajian Islam untuk lebih melihat keragamaan pengaruh budaya dalam praktik Islam. Pemahaman realitas nyata dalam sebuah masyarakat akan menemukan suatu kajian Islam yang lebih empiris. Kajian agama dengan cross-culture akan memberikan gambaran yang variatif tentang hubungan agama dan budaya. Dengan pemahaman yang luas akan budaya-budaya yang ada memungkinkan kita untuk melakukan dialog dan barangkali tidak mustahil memunculkan satu gagasan moral dunia  berdasarkan pada kekayaan budaya dunia.



















Kesimpulan
Kajian-kajian tentang agama dan budaya dapat kita arahkan dalam berbagai kerangka. Pertama dapat kita terapkan dalam upaya mencari konsep-konsep lokal tentang bagaimana agama dan budaya berinteraksi. Kedua, kajian tersebut dapat dipusatkan untuk mempetakan Islam lokal dalam sebuah peta besar Islam universal. Ketiga, local discourse atau local konwledge yang tumbuh dari pergumulan agama dan budaya dapat dijadikan sebagai tambahan wacana baru globalisasi.
Pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia yang tercermin dalam budayanya. Posisi penting manusia dalam Islam-seperti digambarkan dalam proses penciptaannya yang ruhnya merupakan tiupan dari ruh Tuhan-memberikan indikasi bahwa manusia menempati posisi penting dalam mengetahui tentang Tuhan.
Dengan demikian pemahaman agama secara keseluruhan tidak akan tercapai tanpa memahami separuh dari agama yaitu manusia. Tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris. Di sinilah letak pentingnya pendekatan antropologi dalam mengkaji Islam.
















DAFTAR PUSTAKA
1.    Abdurrahman Mas’ud. Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik: Humanisme Relegius Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Gama Media. 2002.
2.  Ahmad, Akbar S, Kearah Antropologi Islam, Jakarta: Media Da’wah
3.   Azyumardi Azra. Pendidikan Islam: Tradisi Dan Modernisasi Menuju     Milenium Baru.   Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu. 2002.
4.     Hoselitz, Bets F, Panduan Dasar Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: CV. Rajawali,   1988
5.     Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi. Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Benang Tradisi Dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2004.
6.   Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru, 1980
7.   M. Munandar Sulaeman, Ilmu Budaya Dasar, Bandung: PT. Erosco, 1993
8.  Noto Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,  2004
9.  Sulaeman, Munandar, Ilmu Budaya Dasar, Bandung: PT. Erosco, 1993