Kamis, 16 Februari 2012

JADILAH KEPANJANGAN TANGAN ALLAH


JADILAH KEPANJANGAN TANGAN ALLAH
Oleh : Sobarudin, S.Ag.
Kedatangan seseorang  kepada diri kita terkadang tidak disangka, apalagi ketika kita sedang sibuk mengurusi sesuatu, kehadiran seseorang itupun luput dari pandangan dan perhatian kita sebagai tuan rumah. Ketika sedang ada acara hajatan misalnya, mengkhitan atau menikahkan anak atau acara lainnya,  Kehadiran seseorang yang penampilannya tidak lazim layaknya orang menghadiri resepsi, maka jelas akan terasa mengganggu dan kurang sedap dipandang, dengan serta merta diantara kita biasanya akan mengusirnya karena dianggap akan mengganggu kehidmatan suatu acara resepsi.
Ada kisah menarik bertalian dengan pernyataan diatas yang patut kita simak. Pada suatu waktu terjadi dialog. “Hai Musa, kami mau mengundang Tuhan untuk hadir dijamuan makan malam kami”, pinta tetua Bani Israil kepada Nabiyallah Musa.
“Ya Musa, bicaralah kepada Tuhan agar Dia berkenan hadir, “ timpal yang lain. Nabi Musa agak sebal juga mendengar permintaan kamumnya. Di telinga beliau, permintaan itu lebih mirip dengan ejekan, penghinaan. Beliau menjawab bahwa Tuhan tidak membutuhkan makanan dan minuman. Bahkan Dia-lah yang memberi makanan dan minuman dan segala yang menjadi kebutuhan manusia.
Dalam kondisi setengah marah dan kecewa, Nabi Musa naik ke bukit Sinai, ia bermaksud menyampaikan unek-unek kepada Tuhan. Sesampainya di sana, Tuhan malah berfirman, “Hai Musa, bukankah kaummu sudah mengundang Aku untuk hadir di jamuan makan malam mereka?, sampaikan salam kepada mereka, aku bersedia hadir pada jum’at malam.
Sambil heran bercampur bingung, Nabi Musa sampaikan juga berita kebersediaan Tuhan ini kepada kaumnya. Mulailah kaum Bani Israil mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut Tuhan. Nabi Musa sendiri ikut turun tangan agar penyambutan ini menjadi penyambutan yang spesial. Karena yang akan datang juga spesial, Allah, Tuhan penguasa alam ini.
Hari demi hari berlalu hingga tibalah waktu yang dinanti-nantikan. Sementara itu persiapan terakhir terus dilakukan. Ketika sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam, tiba-tiba datang seorang tua denan pakaian yang lusuh. Wajahnya tak dikenal oleh warga setempat. Wajahnya yang kelelahan menyiratkan bahwa ia pastilah datang dari negeri yang jauh. Penampilannya menyiratkan bahwa ia pastilah ia orang susah, orang miskin. Kemudian ia mengetuk pintu hati orang-orang yang ada ditempat itu, yakni ditempat jamuan makan malam, “Hai tuan, adakah yang sudi memberikan saya makan walau sedikit dan minuman walau seteguk?”. Tak satupun yang peduli.
“Hai tuan, adakah yang sudi memberikan saya makan walau sedikit dan minuman walau seteguk?”. Lagi-lagi tak ada yang peduli. Sementara itu ia melihat begitu banyak makanan dan begitu banyak rupa minuman yang tampak enak dan menggiurkan. Kemudian pak tua itu mendatangi Musa dan langsung minta padanya permintaan yang sama. “Tidakkah engkau lihat, pak tua. Kami semua sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam untuk Tuhan. Begini saja, engkau ambillah dulu air dari sumur itu dan penuhilah bak ini, nanti aku akan beri upah”.
Pak tua itu menurut, dengan langkah tuanya dan sisa energi yang masih dimilikinya, ia penuhi bah yang diperintahkan nabi  Musa untuk diisi air. Namun selepas mengisi bak tersebut, tetap saja mereka tidak memberikan pak tua itu makanan dan minuman. Hingga akhirnya pa tua itu berlalu dari hadapan mereka. Karena kesibukannya, kaum bani Israil dan nabi Musa tidak terlalu memerhatikan berlalunya pak tua tersebut.
Tibalah malam yang dinanati. Mereka bernyanyi dan bersuka cita karena mereka merasa sebagai kaum yang istiwewa, bisa bertemu muka langsung dengan penguasa jagat ini. Dan sedikitpun tidak ada kekhawatiran dalam diri nabi Musa bahwa Tuhannya bisa saja tidak hadir. Tuhan Maha Memenuhi Janji, begiti pikir nabi Musa.
Hingga larut malam, Tuhan yang berjanji hadir tidak kunjung hadir. Kaum Bani Israil sudah mulai resah dan gelisah, nabi Musa juga mulai salah tingkah. Ketika malam semakain larut, wajah-wajah kaum Bani Israil pun mulai menunjukan kelelahan dan rasa kantuk berdampingan dengan kekecewaan kepada nabi Musa dan Tuhan-Nya yang tak kunjung datang.  Hingga pagi harinya, kekecewaan kaum Bani Israil berupah menjadi kemarahan, mereka menuduh nabi Musa bohong.
Nabi Musa pun tidak kalah kecewanya, meski demikian ia merasa tidak berhak marah kepada Tuhan. Hanya saja ia sedih mengapa Tuhan melalaikan janji-Nya, yang akhirnya membuat ia semakin terpojok. Naiklah lagi nabi Musa ke bukit Sinai, dan sebelum Musa berkata-kata, Tuhan malah berfirmah, “Ketahuilah hai Musa, Aku sudah datang, aku sudah datang”.
Aku sudah datang memenuhi janji-Ku, tapi kalian tak satupun yang menyambut-Ku. Aku datang bahkan dalam keadan lapar dan haus. Dan tak ada satupun  dari kalian yang sudi meberi-Ku makan, meberiku air. Aku bahkan datang kepada Musa  dalam keadaan letih, tapi engkau malah menyuruhku memenuhi bak air untuk sekedar upah yang hanya bisa mengganjal perut-Ku dan untuk sekedar upah yang hanya bisa membasari tegorokan-Ku.
Ketahuilah Musa, tidaklah sampai cinta-Ku kecuali engkau mencintai sesama. Tidaklah sampai pelayanan-Ku  kecuali engkau sudi melayani sesama. Ketahuilah, Aku hanya mencintai mereka yang mencintai sesama. Aku bersedia membantu hanya kepada mereka yang bersedia membantu sesama. Dan ketahuilah pula, kenikmatan adalah untuk berbagi.
Lemaslah Musa, dan sadarlah ia akan kekeliruan dirinya dan kekeliruan umatnya. Tuhan ternyata hadir. Dan Dia hadir dengan rupa seorang tua. Sekarang, Tuhannyalah yang kecewa pada dirinya dan diri umatnya.
Kisah diatas memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa jangan memandang remeh orang yang tidak dikenal terlebih  penampilannya tidak layak atau bahkan  seperti orang papa. Selain itu pula dalam suasana sesibuk apapun kita selayaknya masih peduli atas kesulitan dan penderitaan muslim lainnya sehingga diharapkan timbul  kesadaran untuk terus berempati yang diwujudkan dalam bentuk saling tolong-menolong dan meringankan beban hidup mereka.
Alangkah bahagianya anak-anak yatim yang berada di panti asuhan maupun rumah bilik sederhana, yang tidak ada satupun barang mewah dan makanan yang tersedia untuk di konsumsi, ketika kita datang menenteng makanan dan sejumlah perlengkapan, membuat mereka tersambung hidupnya.
Sungguh bahagia orang tua nan jompo ketika bangun dari tidurnya lantaran sakit disampingnya tidak ada sanak saudara, kemudian kita membelainya dengan penuh kasih sayang dan menyuapinya makanan dan minuman.
Sungguh bahagia orang tua yang menyaksikan anaknya menangis sebab besok harinya dia akan diskor oleh sekolah lantaran tidak lunas keuangan sekolah, kemudia hadir kita untuk memberinya sejumlah uang untuk menulasi sejumlah tunggakan disekolahnya.
Sungguh bahagianya para ibu yang menyaksikan bayinya menangis tiada henti  lantaran minta air susu sedangkan air susu dirinya telah mengering, kemudian kita hadir memberinya sekaleng susu bayi.
Alangkah bahagianya apabila kita datang sebagai kepanjanagan tanganan Allah dalam meringankan beban dan mengasihi sesama.
(Disarikan dari Wisata Hati KH. Yusuf Mansur)




MAULID NABI; SEJARAH, MOMENTUM DAN PR BERSAMA


MAULID NABI: SEJARAH, MOMENTUM DAN PR BERSAMA
Oleh : Sobarudin, S.Ag.
Kalaulah ada seseorang  berarti dalam kehidupan seseorang lainnya, dia bisa bersosok sebagai orang tua, anak tercinta, suami, istri ataupun orang berjasa lain, maka tidaklah berlebihan ketika ketidak hadirannya oleh orang yang mencintainya atau simpatisan terlebih sebagai warga negara yang menghargai jasa para pendahulu, diperingati hari lahir ataupun hari kewafatannya. Segai warga negara Indonesia yang baik, kita mengenal para tokoh pahlawan nasional seperti; RA Kartini, Kihajar Dewantara, Bung Tomo, Muhammad Hatta, Tujuh Pahlawan Revolusi  dan sederet nama lain yang tidak semuanya dituliskan. Maka ketika hari kelahiran atau wafatnya, dilakukan libur nasional ditandai dengan upacara bendera full atau setengah tiang.
Ini merupakan suatu bentuk apresiasi atas jasa dan darmabaktinya untuk negeri tercinta ini. Sehingga wajar bila ada ungkapan “Warga negara yang baik adalah warga yang menghargai jasa para pendahulu/pahlawannya”. Hal wajar juga apabila umat Islam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh revolusi peradaban manusia, sehinga atas kelahiran dan jasa perjuangan dirinya manusia berada pada suasana terang benderang dibawah sinaran cahaya ke-Islaman, yang menghantarkan dari abad jahiliyah ke abad Islamiyah.
Kilas  Maulid Nabi
Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Peringatan maulid nabi untuk pertama kalinya dilaksanakan atas prakarsa Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriah) dari Dinasti Bani Ayyub, yang dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama "Saladin". Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusat kesultanannya berada di Qahirah (Kairo) Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah hingga Semenanjung Arabia.
Islam sedang mendapat gelombang serangan dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 Laskar Eropa merebut Yerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual.
Salahuddin Al-Ayyubi berpendapat, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad saw, tanggal 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal. Sebenarnya hal itu bukan gagasan murni Salahuddin, melainkan usul dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yang menjadi atabeg (semacam bupati) di Irbil, Suriah Utara. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin di istananya sering menyelenggarakan peringatan maulid nabi, cuma perayaannya bersifat lokal dan tidak setiap tahun. Adapun Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa.
Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Akan tetapi Salahuddin menegaskan bahwa perayaan maulid nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Bagdad, ternyata khalifah setuju. Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai hari maulid nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.
Dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan maulid nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 Hijriah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan maulid nabi.
Ternyata peringatan maulid nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjid al-Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini.
Berkaitan dengan itu kemudian timbul pertanyaan kenapa  maulid Nabi setiap tahun diperingati?, menurut hemat penulis, hal  ini merupakan salah satu upaya untuk mengingat kembali sejarah nabi, untuk kemudian timbul semangat baru untuk meneladani bagaimana semangat berdakwah Rasulallah, bagaimana akhlak  Rasulallah dalam kehidupan sehari-hari meliputi; bagaimana bericaranya rasulallah, bagaimana  etika makan minum rasulallah, bagaimana gaya kepemimpinan dalam  keluarga dan pemerintahan rasulallah, bagaimana etos kerja mencari nafkahnya rasulallah, bagaimana  berprilaku terhadap tamu serta tetangga rasulallah, bagaimana akhlak terhadap teman dan lawan serta bagaimana mendorong pengikut setia beliau menjadi generasi terbaik dari generasi yang pernah ada ?. Kesemuanya itu memerlukan refleksi kita bersama, sudah sejauh mana  prilaku Nabi Muhammad SAW yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Jangan-jangan kita hanya pandai berslogan dan retorika belaka dan minim dalam implementasi.
Di seluruh negeri di dunia ini yang sependapat dengat adanya peringatan Maulid Nabi, setiap tahunnya selalu digelar acara yang kesemuanya dengan tujuan ikut mengagungkan dan memuliakan kelahiran baginda Muhammad SAW  dikemas dengan berbagai kegiatan. Tak luput di Indonesiapun yang notabene sebagai negara terbesar berpenduduk Muslim, nampaknya peringatan Maulid nabi itu sudah menjadi agenda  rutin Nasional. Mulai dari lingkungan Istana kepresidenan sampai ke tingkat mushala di tiap RT turut merayakan maulid ini. Fenomena ini patut di apresiasi secara positif sebagai wujud kecintaan kepada Rasulallah pembawa risalah kebenaran dari sang Khaliq dengan harapan sedikit demi sedikit dapat meneladaninya.
Sejalan dengan ini ada fenomena yang harus dikritisi oleh kita semua, banyak diantara masyarakat Indonesia  lebih mengedepankan nilai-nilai tradisional ketimbang nilai-nilai spiritual, sehingga tidak sedikit dijumpai praktik-praktik yang mengarah ke praktik kemusyrikan dalam rangka maulid nabi ini. Alih-alih mengagungkan dan memuliakan kelahiran nabi, malahan lebih senang berhura-hura sehingga lupa akan esensi dari perayaan yang sejatinya, ditambah lagi yang memprihatinkan adanya praktik mengharap berkah dari benda-benda yang dianggap keramat dan mempunyai tuah (kemanfaatan lebih).  Hal ini harus menjadi perhatian yang cukup serius terutama para tokoh agama, untuk  sama-sama mencarikan solusi serta meluruskan aqidah dan praktik-praktik yang dapat menjerumuskan pada perbuatan yang berbau tahayul, bid’ah, khurafat lebih-lebih praktik syirik.
Di kalangan dunia pendidikan lebih khusus di lingkungan sekolah, kegiatan semacam ini nampaknya merupakan suatu momentum yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai keimanan dan keislaman kepada peserta didik untuk kemudian diharapkan menjadi generasi Islami yang tahu akan sejarah dan mengidolakan Rasulallah dalam hidupnya. Pada dunia remaja kecenderungan mencari idola merupakan suatu yang harus mendapat perhatian lebih. Tidak sedikit remaja kita tidak mengenal lebih dekat siapa nabi Muhammad itu ?, sehingga derasnya arus informasi dan westernisasi sebagai buah dari modernisasi dan globalisasi, menjadikan tontotan beralih fungsi menjadi tuntunan, sebaliknya yang sejatinya tuntunan menjadi bahan tontonan dan cemooh belaka.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sungguhpun terdapat kontropersi dikalangan umat Islam hukum pelaksanaannya, tetapi semuanya terpulang kepada niat/motivasi masing masing untuk kemudian menilik sisi positifnya bagi penanaman keimanan dan kecintaan kepada Rasulallah sebagai profil suri tauladan  serta spirit implementasi keislaman secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Momentum Maulid Nabi oleh semua pihak terlebih sekolah, kiranya dapat diposisikan sebagai salah satu upaya untuk mengekplorasi  dan meneladani akhlak Rasulallah untuk kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga segala gerak langkah kita yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW tidak jauh panggang daripada api tetapi benar-benar membumi dan membudaya.
Diperlukan konsistensi dalam upaya penanaman kecintaan terhadap Rasulullah mulai dari usia dini hingga jenjang usia tertinggi melalui berbagai kemasan kegiatan yang dapat menyentuh dan efektif pada semua strata masyarakat Indonesia.
Sinergitas semua elemen masyarakat untuk pencapaian tujuan mulia dari peringatan Maulid Nabi yang jauh dari praktik-praktik kemusyrikan adalah suatu keniscayaan sehingga tercipta suasana dan generasi Islami, Semoga...   
(Dari berbagai Sumber).






MERINDUKAN PEMIMPIN PRO BAWAHAN DAN JADI TELADAN


MERINDUKAN PEMIMPIN PRO BAWAHAN
DAN MENJADI TELADAN
Oleh : Sobarudin

Tema menjadi pemimpin yang bijak dan disukai bawahan, pada era sekarang menjadi pembicaraan aktual oleh pemerhati perkembangan masyarakat Indonesia.  Pemerhati tersebut berasal dari berbagai unsur masyarakat yang memiliki rasa kepedulian dan keprihatinan atas berbagai kejadian yang menimpa kelompok masyarakat tertentu yang termarjinalkan dan kurang diuntungkan dengan berbagai kebijakan dari penguasa negeri ini.
Memimpin suatu kelompok masyarakat besar bagi seorang pemimpin itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, tetapi harus dilandasi kompetensi dan karakter yang baik pada tataran implementasi. Sejatinya bagi pemimpin lebih banyak mendengar apa yang dikehendaki anggota kelompoknya, dibandingkan memaksakan keinginan terhadap kelompok atau bahkan mementingkan politik Asal Bapak Senang (ABS). Kurang etis rasanya pemimpin mengharapkan imbalan dari apa yang telah dilakukan terhadap anggota kelompoknya, karena tanpa harapan itu pula sebagai anggota yang menghormati pimpinannya tentu akan tahu cara berterima kasih manakala suatu kegiatan atau proyek telah terselesaikan.
Pemimpin perlu menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Keteladan itu memberikan cerminan bagi yang dipimpinnya. Anggota kelompoknya akan merasakan kehadiran pemimpinnya dalam keadaan dan suasana apapun. Pemimpin tidak harus disegani atau ditakuti, tetapi pemimpin harus mampu menjadi seseorang yang patut diteladani. Karena keteladanan pemimpin akan menggerakan seluruh jiwa dan raga para anggotanya untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi kepentingan kelompoknya.
Kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan harapan terpenuhi segala kebutuhan anggota kelompoknya, dapat terlihat dari bagaimana sosok pemimpin bekerja keras untuk melakukan sesuatu yang bermanpaat bagi kelompoknya. Dia berani melakukan apapun demi terpenuhinya kebutuhan anggota. Dia ikhlas melakukannya, dia rela mengorbankan segala yang dimilikinya, hanya untuk memberi kebahagiaan bagi anggota kelompoknya. Dia tidak sungkan-sungkan untuk segera mengambil keputusan yang terbaik untuk anggota yang dipimpinnya.
Keseriusan seorang pemimpin dalam mengemban amanah yang dipikulnya akan mendorong semangat anggota yang dipimpinnya untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Tentu perintah yang dikeluarkan oleh pemimpin tersebut dapat dipahami oleh anggota-anggotanya dikarenakan isi perintah dari pemimpin tersebut  sesuai dengan aturan yang semestinya, sesuai pula dengan kemampuan, keahlian dan yang paling utama tidak menimbulkan beban mental dan ekses negatif.
Setiap pemimpin akan berusaha melakukan evaluasi atas keputusan yang dikeluarkan. Keputusan tersebut merupakan penjabaran dari visi misi kepemimpinannya, bagaimana pemimpin tersebut mampu memberikan cara menyelesaikan permasalahan yang ada, di sertai dengan langkah-langkah yang aplikatif. Pemimpin akan berpikir keras dan berusaha sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki dengan tentu saja melibatkan berbagai pendapat dan saran dari anggota yang dipimpinnya. Dia piawai menganalisis  berbagai pendapat tersebut dengan dasar-dasar pengalaman dan keilmuan untuk dapat membuat kebijakan yang memihak kepada kepentingan dan kesejahteraan  anggota.
Penyadaran diri bahwa ia  sebagai bagian dari anggota, memungkinkan sosok pemimpin tersebut menyadari betul bahwa dirinya harus bekerja sama dan harus mampu memberikan manpaat bagi anggota. Maka dia berusaha untuk mencari berbagai metode yang tepat untuk digunakan dalam membantu anggota-anggotanya menyelesaikan pekerjaan yang diembannya. Disinilah perlunya pemimpin memahami betul karakteristik pekerjaan setiap anggotanya. Kemudahan menyelesaikan suatu pekerjaan yang dilakukan anggota dengan bantuan pemimpin  akan menjadikan pemimpin tersebut menjadi bahan rujukan atas pekerjaan.
Pemimpin harus bersikap netral terhadap anggota-anggotanya. Hal ini sangat penting dalam proses mencapai tujuan yang menjadi harapan semua anggota. Pengambilan keputusan harus secara cermat memperhatikan kepentingan setiap anggota. Tidak menimbulkan kesenjangan dan ketidakharmonisan dalam melakukan pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawab setiap anggota.
Ketegasan seorang pemimpin tidak harus memaksa anggota untuk melakukan apa yang diperintahkannya. Akan tetapi pemimpin dalam memberi perintah atau mengeluarkan  keputusannya harus berlandaskan kewenangannya yang berdampingan dengan haknya sebagai pemimpin dan kewajiban yang semestinya dilaksanakan. Sehingga tidak menimbulkan pertentangan atas suatu pekerjaan yang sedang dilakukan.
Bertanggungjawab terhadap resiko buruk sebagai bagian dari akibat keputusan yang dikeluarkan pemimpin merupakan bagian penting dari bagaimana mengembalikan kepercayaan diri bagi anggota untuk segera melakukan upaya perbaikan. Ini akan mendorong semangat anggota dalam mengerjakan tugas. Mereka  merasa terlindungi atas segala tindakan yang menyangkut pekerjaannya. 
Apresiasi dan penghargaan terhadap hasil pekerjaan anggotanya merupakan bentuk kepedulian pemimpin dalam mendorong anggota untuk bekerja lebih giat dan menghasilkan produk yang lebih baik. Pemberian penghargaan ini diberikan sesuai dengan prestasi hasil penilaian pemimpin dan anggota secara keseluruhan yang dilakukan dengan mengedepankan obyektifitas. Sehingga terhindar dari kesenjangan dan melemahnya kebersamaan anggota.
Pemimpin harus menghindari sanjungan atas usaha kepemimpinannya dalam memajukan anggota. Namun pemimpin yang berpikir maju menjadikan keberhasilan yang didapatkannya adalah bagian dari ketaatan anggotanya dalam  memenuhi apa yang menjadi kewenangan dirinya sebagai pemimpin. Dia pandai berterima kasih kepada anggotanya, bahwa keberhasilan bukan atas dirinya, akan tetapi merupakan hasil dari kebersamaan.
Refleksi kepemimpinan yang memiliki nilai positif diatas hanya sekelumit dari besar harapan memiliki pemimpin yang mampu memberi inspirasi dan mampu menjadi teladan atas kepemimpinannya, sehingga memotivasi etos kerja dan kreasi anggota dalam komunitas untuk memberikan nilai-nilai konstruktif dan secercah kebahagian bagi para anggota dalam beraktivitas. Sehingga efek positif yang diharapkan akan tercipta suasana kerja yang kondusif, efektif dan efesien serta mampu memberikan kebahagiaan bagi para anggota.
Besar kiranya harapan para pemimpin di negeri ini dapat melahirkan regulasi dan budaya kerja yang benar-benar dapat diharapkan, pemimpim yang pantas dijadikan suri tauladan dan tidak melahirkan budaya kerja yang mendapat cibiran atau cemooh dikemudian hari oleh para generasi yang akan datang. Sehingga tercipta suasana masyarakat yang sejahtera dan kenyamanan dalam bekerja. Semoga...
(Dari berbagai sumber)