Jumat, 30 September 2016
Minggu, 28 Desember 2014
SALAM DUA JADI RUBAH JADI GIGIT JARI
Tanggal 20 Oktober 2014 merupakan hari tonggak sejarah baru bagi bangsa
Indonesia, yakni hari dilantiknya Pesiden baru pemenang pemilu 2014. Pesta pora
dari para simpatisan dan pengusung pasangan terpilih begitu melekat di ingatan
kita melalui media yang kita baca dan media yang getol menyantroni kita di
rumah (TV).
Belum genap usia pasangan itu 10 hari bekerja, sudah membuat rakyat
Indonesia terkejut, betapa tidak Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan susunan
kabinet yang ia sebut dengan kabinet kerja dengan komposisi dan nama-nama yang
masih kontroversi menurut para ahli di bidangnya. Saya tidak menyebutkan
nama-nama dimaksud, para pembaca sudah maklum akan hal itu. Masalah susunan nama
di cabinet kerja belum reda dari perbincangan dan diskusi, rakyat di kejutkan
lagi dengan pemilihan dan pelantikan Jaksa Agung yang dianggap tidak pantas dan
tidak melalui mekanisme yang lazim dilakukan oleh presiden pendahulunya, yakni
tidak melalui uji public dan kelayakan di DPR serta pejabat yang di pilih
kapasitasnya dipandang biasa saja dan tidak punya prestasi yang pantastis untuk
ukuran pejabat Negara.
Selanjutnya belum genap satu bulan beberapa minggu yang lalu, kembali
rakyat dipaksa untuk menerima keputusan kenaikan harga BBM sebagai akibat
pengalihan subsisi BBM dari sector konsumtif ke sector prodiktif, sungguhpun
hal ini paradok dengan harga minyak mentah dunia yang mengalami penurunan.
Janji-janji manis pasangan Jokowi-JK
tatkala kampannye seolah menguap seiring kontroversi berlangsung, kritikan dan
saran dari para pengamat politik dan ekonom seolah tak ada pengaruhnya untuk
sebuah kebijakan oleh penguasa baru ini (Suara Islam, Edisi 190 hal 4. Nov 2014).
Posisi rakyat menengah ke bawah nampaknya mengalami dampak lebih serius
atas kebijakan kenaikan harga BBM ini, rakyat mulai dari nelayan, petani,
buruh, pelajar/mahasiswa dan lainya mulai merasakan berbagai kenaikan harga
kebutuhan pokok, hal ini semakin menambah beban hidup dan kesengsaraan mereka.
Rakyat kecil khususnya pendukung dan
pengusung pasangan pemenang Pilpres 2014 mulai mengalami adanya pergeseran dari
salam dua jari manakala kampanye berubah menjadi salam gigit jari . Gigit jari
pertanda melongo akibat kecewa dengan naiknya BBM dua ribu.
Selanjutnya sebagai kompensasi dari pengalihan subsisi BBM, rakyat yang dinyatakan berhak di beri
santunan Rp. 400.000 per kepala rumah tangga untuk dua bulan. Cukup tidak cukup
mesti diterima, padahal sesungguhnya secara hitung-hitungan kasar orang awam jumlah itu belumlah dianggap lanyak untuk
mengimbangi harha-harga yang meroket naik. Pada sisi distribusi , program ini
juga menimbulkan masalah. Betapa tidak, data yang dipergunakan untuk distribusi
sejumlah dana dimaksud menggunakan data lama, hal ini diakui oleh Khofifah
Indar Parawangsa sebagai menteri Sosial di salah satu stasiun televisi, ini
berarti ketidak akuratan data pada masa
pemerintahan sebelumnya dimainkan kembali. Akibatnya sejumlah fenomena yang
tidak semestinya terjadi kini dapat kita saksikan di media massa khususnya
Televisi dengan mudah, kekurang tertiban dan salah sasaran keluarga penerima
program.
Sementara Pemerintah, alih-alih bekerja sama dengan DPR untuk mencari
solusi terbaik untuk kepentingan rakyat, malah menghimbau kepada para menteri
terkait untuk tidak menghadiri undangan DPR dalam forum terhormat menurut
konstitusi yakni rapat kerja dengar pendapat. Hal ini menambah rentetan
kekurang simpatisan dari sebagian masyarakat yang sebelumnya menggantungkan
harapan baik pada pemerintahan yang baru terpilih ini.
Sebagai warga masyarakat Indonesia yang taat pada konstitusi yang
berlaku, kita berharap kepada pemerintah
yang saat ini diberi amanah oleh rakyat
untuk untuk membawa Negara ini ke arah yang lebih baik, lahirkanlah regulasi-regulasi yang memihak kepada
kepentingan rakyat terutama dikalangan
bawah, wujudkan janji-janji manis manakala berkampanye, arahkan kebijakan untuk
kemajuan dan kemandirian bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar
jangan di kecilkan dengan kepentingan-kepentingan sesaat dan hanya demi mengutamakan kepentingan
pribadi dan golongan.
Akhirnya apapun kebijakan pemerintah yang diambil dan mendapat beragam
respon dari masyarakat, semoga ujung-ujungya membawa perubahan ke arah positif
demi masa depan bangsa Indonesia yang mendambakan Indonesia yang lebih
sejahtera, mandiri serta bermartabat. Semoga…
Kamis, 20 Februari 2014
URGENSI PENGENDALIAN DIRI DI DUNIA PENDIDIKAN
URGENSI PENGENDALIAN DIRI DI DUNIA PENDIDIKAN
Oleh : Sobarudin*
Pada kurun waktu menjelang Ujian Nasional (UN) seperti sekarang ini muncul fenomena dimana sejumlah siswa terlena dengan kebiasaan kurang bijak untuk dilakukan layaknya siswa yang siap mengikuti Ujian Nasional dengan prediksi hasil yang memuaskan, lebih tepatnya sejumlah siswa tidak dapat mengendalian diri dalam kesiapannya menghadapi Ujian Nasional yang pelaksanaannya tinggal hitungan hari. Fenomena ini dapat terlihat dengan sederhana, sejumlah siswa terlihat tenang-tenang saja mendengar informasi bahwa bentuk soal untuk UN tahun ini adalah 20 paket untuk SMP misalnya, dengan pengertian bahwa dalam satu kelas terdapat 20 paket soal yang berbeda satu orang dengan lainnya, rendahnya respon siswa dalam mengikuti kegiatan keilmuan, kurang aktif mengikuti pengayaan (tambahan pelajaran), tidak mengoptimalkan peran kelompok-kelompok belajar yang sudah dibentuk, rendahnya animo mengikuti bimbingan belajar di sejumlah tempat yang sengaja di adakan oleh sebuah lembaga bimbingan belajar.
Kembali pada topik, menurut R.S Satmoko, (1986:130) Pengendalian diri adalah kemampuan mengenali emosi dirinya dan orang lain, baik itu perasaan bahagia, sedih, marah, senang, takut, dan sebagainya. Sedangkan Pengertian Pengendalian berasal dari kata kendali, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti proses, cara, pembuatan pengendalian, pengekangan. Sedangkan kata diri berarti orang seorang. Sehingga secara sederhana dapat di devinisikan pengendalian diri adalah suatu kemampuan seseorang dalam upayanya mengenali dan mengendalian emosi dirinya dan orang lain sehingga lebih berdampak posotif.
Setiap peserta didik tidak terbatas pada tingkatan Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi (PT) sejatinya pandai dalam pengendalian diri. Pengendalian diri dimaksud adalah pandai mengendalian emosi dan perasaan manakala pada posisi dimana jiwa tidak stabil (kecenderungan negatif). Terinspirasi dengan salah satu hadis Rasulallah SAW dimana dikatakan bahwa ”Orang yang yang paling kuat bukanlah orang yang dapat mengalahkan orang lain dengan kekuatannya, tetapi orang yang mampu mengendalikan amarahnya.” (HR Bukhari). Kata amarah dekat dengan kata marah, apabila dilakukan seseorang maka ditandai dengan luapan emosi yang tidak terkendali, akal sehatnya menjadi tidak berfungsi normal, bicaranya menjadi tidak terkontrol, raut mukapun menjadi berubah ke arah yang menyeramkan dan tidak nyaman di pandang.
Sepanjang perjalanan hidup seseorang terlebih para peserta didik, seharusnya piawai dalam mengendalian diri, dalam beraktifitas di lembaga pendidikan dimana ia selama ini menimba ilmu dilingkupi pasang dan surut suasana hati (motivasi), kejadian positif dan negatif datang silih berganti, kerikil kerikil peristiwa yang kerap menjadi pemicu semangat, sungguhpun tidak jarang justru menjadi pemicu ketidak harmonisan dalam jalinan hubungan pendidikan dan persaudaraan, sejatinya menjadi wahana untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang tangguh dalam pengendalian emosi diri. Tidaklah dikatakan berhasil seseorang manakala ia menghindar dari ujian, akan tetapi dikatakan berhasil seseorang adalah manakala mampu dalam mengatasi ujian yang datang mendera dirinya.
Ilustrasi dari pemaparan diatas adalah seorang siswa dikatakan berhasil manakala mampu secara psikologis dan akademik mengnyelesaikan sejumlah ujian yang dilaksanakan di sekolah dengan dibuktikan bahwa pribadinya stabil dan sejumlah angka memenuhi kriteria yang dipersyaratkan dalam sebuah tes. Diakui atau tidak, sejumlah orang termasuk kita para pendidik sering terjebak dengan anggapan bahwa kesuksesan seseorang ditandai dengan nilai (angka) secara kuantitatif semata, tetapi sering melupakan nilai-nilai secara psikologis dan moral secara kualitatif, padahal pada sisi kedua inilah esensi dari keberhasilan seorang manusia bermuara.
Bagi mereka yang sanggup membuktikan bahwa dirinya mampu mengendalikan diri akan memperoleh beberapa hal diantaranya : Dari sisi pisik, muka akan nampak lebih berseri, kelihatan lebih awet muda, jauh dari berbagai penyakit yang diakibatkan faktor psikologis seperti tekanan darah tinggi, stres dll. Dari sisi sosial, akan lebih mudah bergaul, hubungan dengan peserta didik dan lainya lebih harmonis, disenangi oleh banyak orang sehingga pada tataran tertentu akan menambah persaudaraan yang lebih luas dan menyenangkan.
Kesimpulan: Seseorang yang pandai mengendalian diri baik itu peserta didik terlebih para pendidik dalam kapasitas dan posisinya masing-masing, maka bisa dikatakan dia adalah orang pilihan dan berpeluang untuk menjadi pribadi yang berhasil serta sukses. Sukses dari sisi kualitatif yang ditandai sisi psikologis dan moral menjadi lebih stabil, dari sisi kuantitatif ditandai dengan sejumlah angka yang signifikan baik pula. Bukankah kita semua akan senang manakala bersahabat dengan orang yang pengendalian dirinya baik dan sebaliknya kita akan menjauh dari mereka yang tidak mampu dalam pengendalikan diri. Pertanyaannya maukah kita jadi pribadi yang pandai dalam mengendalikan diri dalam dunia pendidikan sehingga dunia pendidikan kita akan semakin maju dan bermartabat ?, suasana pembelajaran dalam bingkai wawasan wiyana mandala bukanlah slogan tanpa makna tetapi lebih membumi di lingkungan pendidikan kita, semoga…
Jumat, 15 November 2013
GURU TAK PERLU PROFESIONAL YANG PENTING SERTIFIKASI CAIR
GURU TIDAK PERLU PROFESIONAL YANG PENTING SERTIFIKASI CAIR
Oleh :
Sobarudin, M.Pd.I
Terlalu
kontra produktif nampaknya pengambilan judul yang penulis ketengahkan pada
tulisan kali ini, hal ini terinspirasi dari celotehan pemateri pada kegiatan
Workshop Optimalisasi Pemberdayaan Alumni S2 Guru PAI tingkat Nasional di
Jakarta yang diikuti penulis beberapa waktu lalu. Pada awalnya penulis juga
merasa kurang nyaman dengan pernyataan pembicara pada acara dimaksud, akan
tetapi tidak berselang lama penulis juga menyadari bahwa tidak terlalu
berlebihan bila beliau mengatakan demikian setelah mendengar beberapa
pencerahan selanjutnya.
Ada
pertanyaan menggelitik mengapa Pembicara menyebutkan celotehan demikian?
Ternyata tidak dipungkiri dan dapat dengan kasatmata kita dapat melihat bahwa
guru selepasnya mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) yang
dinantikannya selama ini dengan harapan kedepan dapat membawa angin segar untuk
memperbaiki strata ekonomi guru bersangkutan, ternyata beliau-beliau sekembalinya ke tempat tugas beliau kembali
seperti yang dulu, maknanya adalah tidak adanya perubahan signifikan terhadap
kinerja dan peningkatan mutu pendidikan dimana ia menjalankan tugas selama ini,
yang ada dalam benaknya kapan tunjangan prifesi yang dijanjikan pemerintah dapat segera cair
Padahal
ada beberapa Indikator guru dikatakan profesional selain ia wajib memiliki 4 kompetensi yakni kompetensi Pedagogik, kompetensi Profesional selanjunya di sebut
hard skill, kompetensi Kepribadian serta kompetensi Sosial selanjutnya disebut
soft skill. Pada tataran implementatif selanjutnya ke empat kompetensi tersebut
oleh sejumlah pakar pendidikan perlu penambahan yakni kompetensi spiritual dan
kompetensi kepemimpinan.
Berikut
beberapa Indikator guru dikatakan Profesional, diantaranya:
1.
Memiliki Kapasitas Profesional,
maknanya adalah untuk menjadi guru dikatakan professional ia haruslah memiliki
ijazah yang dipersyaratkan oleh Undang-undang, minimal ber Strata satu fakultas
Pendidikan atau memiliki akta IV bagi mereka yang latar belakang pendidikan
sebelumnya non pendidikan. Memiliki sertifikat Pendidik atau Surat Tanda
Pendidikan dan Latihan (STTPL) yang
berkaitan dengan profesinya.
2.
Mimiliki komitmen kuat untuk jadi
Profesional, maknanya adalah ia berusaha keras untuk meningkatkan keilmuan yang
berkaitan dengan keprofesionalitasnya, wujud dari semua itu diantaranya ia
rajin untuk even-even keilmuan di berbagai tempat dan kesempatan, melakukan
penelitian. Untuk guru rajin melalukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan
Penelitian Tindakan Sekolah bagi Pengawas.
3.
Memiliki komitmen mewakafkan waktu untuk Profesinya, maknanya adalah ia
senantiasa dalam bekerja tidak terpaku dengan jam wajib mengajar. Ia senantiasa
dengan senang hati dalam bahasa agama ikhlas untuk menjalankan tuntutan
keprofesiannya di tengah-tengah dunia pendidikan dan kehidupan sosial yang
selama ini ia berinteraksi.
Sekedar ilustrasi
dan sebagai bahan komparasi bahwa guru atau pegawai di Indonesia maksimal
jumlah jam kerjanya hanya 37 jam per minggu, bisa kita tengok ke negara Asia
yang lain seperti Jepang yang memiliki
rekor 48 jam per minggu, itupun oleh negara Korea masih di cibir sebagai negara
malas. Mengapa ia katakan demikian? sebab di Korea jam wajib bekerja
perminggunya mencapai 52 jam. Hal ini dapat
dicermati oleh kita betapa etos kerja guru di Indonesia yang diamanati oleh
Undang-undang hany 24 jam saja per minggunya terasa masih rendah, sehingga
tidaklah berlebihan hasil sebuah survey yang menempatkan Indonesia di urutan ke
50 dari Negara yang disurvai 50 dari sisi keterlibatan siswa dalam mengikuti
even-even Internasional.
4.
Mimiliki kesesuaian antara keahlian
dan dunia kerja, maknanya adalah tidak benar guru yang berlatar belakang S 1
reguler mengajar di tingkat Sekolah Dasar (SD) atau Taman Kanak-kanak (TK),
begitupun sebaliknya guru dengan latar belakang Pendidikan Guru Sekolah Dasar
PGSD mengajar di tingkat SMP/MTs, SMA atau SMK/Aliah walaupun dari sisi Ijazah
sederajat. Pada sisi metode dan pendekatan hal ini sangatlah berbeda sehingga
pada tataran hasil dan evaluasipun akan menghasilakn produk yang berbeda pula. Pada
tempat tertentu fenomena ini sering
terjadi dan menjadi lumrah pada sisi implementasi. Kalaulah pada profesi
kedokteran maka bisa dikatakan dengan latah Malpraktek, pada sisi profesi pendidik ini
bisa dikatakan “Malpendidik”.
5.
Memiliki Tingkat Kesejahteraan,
maknanya adalah guru yang profesional
maka dirinya memantaskan diri untuk dihargai dari sisi ekonomi di lingkungan sosial
dan dihadapan siswa layak untuk digugu dan ditiru, hal ini dilakukan dengan
dukungan tingkat kesejahteraan sebagai balas jasa dan dari kepemilikan
kompetensi dan profesi yang dijalanya selama ini. Pemerintah telah
menetapkan bahwa guru yang dinyatakan
Profesional mendapat tunjangan profesi satu kali gajih pokok setiap bulannya.
Tidak jaman lagi
dikumandangkan lirik Umar Bakri yang
mengilustrasikan guru menderita dan hidup dalam suasana sangat sederhana.
Profesi guru kini dilirik oleh semua kalangan terlebih generasi muda. Indikasi fenomena
ini dapat dilihat begitu banyak bermunculan fakultas dan jurusan keguruan di
padati oleh sejumlah mahasiswa yang menghendaki profesi guru sebagai pilihan.
Kesimpulan
Dunia pendidikan di Indonesia harus
membenahi diri untuk dapat bersaing pada kancah globalisasi pendidikan.
Tantangan kedepan dunia pendidikan semakin berat hal ini dilatar belakangan 3
faktor yakni faktor internal, faktor institusional dan faktor eksternal.
Termasuk dalam katagori internal diantaranya kompetensi pendidikan dan
kompetensi guru yang masih belum maksimal dan merata, kemudian faktor
institusional diantaranya kurang lengkapnya sarana dan prasarana dilembaga
pendidikan, kemudian faktor eksternal, kekurang pedulian orang tua
terhadap perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan dan pengaruh dunia
globalisasi.
Sebagai bahan refleksi ada sebuah
ungkapan Guru Biasa hanya menyampaikan informasi, Guru Baik
menyampaikan penjelasan sedangkan Guru
Hebat member Inspirasi. Mari renungi mau jadi guru yang mana kita ini…?
Terakhir semoga nasib guru-guru Indonesia menjadi lebih baik sehingga dapat
mengangkat posisi Indonesia ke temat yang layak di kancah dunia Internasional,
Semoga….
Penulis,
Peserta Diklat Optimasisasi Pemberdayaan Alumni S2 GPAI Angkatan I
Tingkat Nasional
Kementerian Agama RI tahun 2013
Jumat, 25 Januari 2013
MENYOAL RENDAHNYA BUDAYA BACA
MENYOAL RENDAHNYA BUDAYA BACA
Oleh: Sobarudin
Ada sesuatu yang kurang pas nampaknya apabila fenomena
kecenderungan rendahnya budaya baca pada dunia pendidikan dapat terlihat dengan
mudah. Pesatnya arus Teknologi Informasi di dunia pendidikan tidak akan berdampak
signifikan apabila tidak diimbangi dengan budaya baca oleh para pelaku
didalamnya. Pelaku dimaksud adalah Guru,
Peserta Didik dan Tenaga Kependidikan, sakinng pentingnya elemen ini mendapat
nomer khusus disingkat NUPTK (Nomer Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan). Elemen
terpenting dari pelaku pendidikan adalah Guru dan peserta didik, bukan berarti
elemen lain tidak lebih penting. Nampaknya ada korelasi signifikan dari dua
elemen ini, Satu sisi guru merupakan ujung tobak terdepan dari keberhasilan
suatu proses pendidikan, sehingga sehebat apapun kurikulum dan metode atau
model pembelajaran apabila Guru tidak piawai dalam membawakan dan
mengimplementasikan di lapangan, maka hasil yang diraih tentu akan jauh dari
yang semestinya.
Sisi lain dari unsur terpenting pendidikan adalah peserta didik,
peserta didik mempunyai peran yang
signifikan, ini artinya se-piawai apapun Guru dalam mengajar apabila tidak
diimbangi oleh responsibilitas dari peserta didik, maka apa yang menjadi tujuan
pendidikan tidak akan tercapai secara maksimal. Hal ini berimplikasi harus
adanya harmonisasi, dinamisasi dan kooferatifnya kedua unsur dimaksud (baca Guru
dan peserta didik).
Bertalian dengan ini, ada pribahasa menarik: “Buku adalah Gudangnya
Ilmu, Membaca adalah Kuncinya.” Peribahasa ini sudah lama dikenal, mudah
diucapkan tetapi tidak lebih mudah dari
sisi implementasi. Kecenderungan guru dan peserta didik pada sisi implementasi
ini masih terganjalnya dengan rasa tidak keyeng (bahasa Sunda) atau
rendahnya motivasi baca. Apabila dicermati nampaknya dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Secara sederhana apabila di klasifikasi faktor itu terbagi menjadi dua
yakni faktor internal dan faktor eksternal. Masuk pada katagori internal diantaranya
lemahnya jiwa kritis dan rasa ingin tahu yang lebih, rendahnya daya beli buku
atau fasilitas keilmuan, tingkat kesejahteraan dan kestabilan ekonomi yang
rendah. Selanjutnya masuk pada katagori eksternal yaitu rendahnya stimulus (rangsangan)
dari lingkungan (Sekolah, keluarga, dan teman), kurang lengkapnya buku
referensi, kurang lengkapnya perpustakaan terdekat, rendahknya penghargaan atas
prestasi keilmuan di lingkungan pendidikan, terbuka dan mudahnya mengakses
Internet. Kesemuanya ini ditengarai mempengaruhi rendahnya budaya baca
dikalangan guru dan peserta didik di Indonesia.
Sebenarnya tidak ada
pemilahan apa yang sebaiknya dibaca oleh Guru atau peserta didik dalam upayanya
menambah informasi pengetahuan. Buku cetak, e-book (buku elektronik), serta media
informasi lain (Internet, Jurnal, Lektur, Koran, Majalah/Tabloid, Buletin)
masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Pertanyaannya adalah mampukah Guru dan
peserta didik mengoptimalkan keberadaan berbagai sumber informasi keilmuan itu
untuk menambah wawasan, kapasitas keilmuan yang mumpuni, sehingga berguna bagi
dirinya untuk kemudian dapat diamalkan bagi kebaikan orang lain. Pada
hakekatnya semua yang ada di dunia ini merupakan sumber pembelajaran, apakah
itu berasal dari fenomena alam, fenomena sosial budaya atau fenomena lain,
tinggal pandai-pandai menangkap pesan positif dari semua itu untuk menambah
pengetahuan guru dan peserta didik sehingga mempengaruhi pola pikir, pola kerja
untuk kemudian menjadi budaya positif pada tataran implementasi.
Upaya membudayakan baca dikalangan Guru dan siswa perlu terus
dipacu, yaitu dengan cara meresponi faktor-faktor pendorong lemahnya budaya baca
seperti tersebut diatas, yakni faktor internal dan eksternal oleh berbagai pihak, lebih khusus oleh Pemerintah pada
tataran makro sebagai pemegang kebijakan untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional Indonesia. Pada tataran
mikro di setiap sekolah sejatinya dilengkapi pasilitas-fasilitas yang
dibutuhkan oleh seluruh Guru, Tenaga Kependidikan dan peserta didik,
diantaranya ketersediaan kelengkapan perpustakaan, area hotspot (area akses
Internet), responsif pada berbagai event keilmuan, apresiasi pada sejumlah Guru
atau peserta didik yang berhasil menjuarai event akademik serta memfasilitasi untuk
lebih maju dan berkembang. Ini nampaknya hal yang kurang mendapat perhatian
dari kita selaku bagian dari unsur dunia pendidikan.
Guru dan peserta didik yang gemar membaca dan mau berupaya
meningkatkan kompetensi akademik melalui membaca dan mengikuti berbagai event
akademik, paling tidak akan menambah wawasan dan cara pandang terhadap fenomena
yang terjadi untuk kemudian meng-korelasikannya dengan dunia pendidikan
sehingga stagnasi keilmuan pada diri dan
lembaga dimana ia bekerja atau bersekolah akan terminimalisir.
Nilai tambah Guru yang gemar membaca, maka akan disenangi
oleh pimpinan, rekan Guru lebih khusus oleh peserta didik, hal ini dikarenakan ketika
peserta didik bertanya hal yang kurang dikuasainya, maka dengan piawai dan
mumpuni Guru itu mampu menjawab dan memuaskan pihak peserta didik sebagi
seseorang yang membutuhkan pencerahan. Keuntungan bagi peserta didik apabila
terbiasa dengan budaya baca, selain pengetahuanya akan bertambah, disenagi Guru
dan orang tua, juga disenagi oleh teman.
Selain itu juga akan mendapat kemudahan apabila dikemudian hari akan meneruskan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bahkan kemudahan dalam bekerja. Lembaga
atau perusahaan mana yang tidak membutuhkan orang-orang cerdas dan mumpuni
serta berkarakter rajin baca ?
Ini semua PR bersama, dengan
harapan dunia pendidikan Indonesia akan semakin baik, baik dari sisi kualitas, kuantitas,
pelayanan dan mutu lulusan terlebih menghadapi globalisasi pendidikan yang
ditandai persaingan mutu lulusan lembaga pendidikan dalam negeri dengan mutu
lulusan lembaga pendidikan asing yang ada di Indonesia tercinta ini, Semoga ...
BELAJAR HIDUP SEHAT CARA NABI
BELAJAR HIDUP SEHAT CARA NABI
Oleh:
Sobarudin
Membincangkan kesehatan, sepertinya tidak ada manusia seorangpun yang
tak pernah sakit. Begitupun yang dialami oleh Rasulallaah Muhammad SAW. Menurut
sejarah perjalan hidup beliau, Nabi Muhammad SAW hanya pernah dua kali saja menderita
sakit. Pertama setelah menerima wahyu di Gua Hiro yang mendadak Rasulallah
demam karena ketakutan. Kedua saat menjelang beliau wafat. Fakta tersebut
membuktikan bahwa Rasulallah memiliki ketahanan fisik yang luar biasa di tengah
kondisi alam jazirah Arab ketika itu yang sangat panas, tandus, panas di siang
hari dan dingin di malam hari.
Islam sebagai suatu pedoman hidup yang lengkap dan senantiasa relevan
dengan perkembangan zaman, maka pola hidup sehat sudah dikenalkan oleh
Rasulallah SAW. Buah ajaran pola hidup sehat mencerminkan pribadi yang kuat.
Masalah kesehatan tertera juga dalam kitab suci Al-Qur’an yaitu: ”Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S. Yunus: 57).
Secara sederhana setidaknya ada dua pola hidup sehat yang relevan
dengan disiplin ilmu kesehatan masyarakat yakni kesehatan individu dan masalah
pengaturan gizi kesehaatan. Berikut adalah beberapa pola hidup sehat yang
dianjurkan oleh Rasulallah SAW.
1.
Makan
Secukupnya
Telah termaktub dalam
Al-Qur’an pada salah satu ayatnya, “Makanlah diantara rezeki yang baik yang
telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang
menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku,
maka sesungguhnya binasalah ia”. (QS. Thaha: 81). Ayat ini menegaskan
larangan berlebihan dalam makan karena akan berdampak buruk bagi kesehatan
kita. Berbagai penyakit dapat muncul apabila sembarangan dan tidak mengatur
pola makan dengan baik.
Konsumsilah
secukupnya sesuai dengan kadar kemampuan lambung untuk menampung dan
memprosesnya menjadi energi. Dalam sebuah hadits, Rasul menyatakan bahwa
hendaknya manusia menjaga keseimbangan tubuhnya, sepertiga untuk makanan,
sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Sabda Rasul : ”Kami adalah
sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu
banyak (tidak sampai kenyang)”. (HR. Ibnu Majah).
2.
Tidur/Istirahat
Yang Cukup
Tidur yang cukup
untuk ukuran orang dewasa adalah sekitar 6-8 jam. Hal ini sangat penting untuk
menjaga kesehatan tubuh, apalagi untuk yang berstatus sebagai pekerja, tidur cukup
dapat meningkatkan daya konsertrasi saat kerja. Kalau tubuh kurang tidur, maka
akan sulit untuk berkonsentrasi, tubuh akan lemas, dan sulit untuk berpikir jernih.
Untuk yang berstatus pencari ilmu atau pelajar, maka akan terancam gangguan
mengantuk di tempat belajar. Bagaimana kita akan dapat menyerap ilmu yang
disampaikan bila kita mengantuk? Sungguh
sebuah kerugian besar jika kondisi demikian.
3.
Berolah Raga
Berolah raga membuat
peredaran darah menjadi lancar, pembakaran kalori menjadi energi pun bisa
optimal. Dengan berolah raga yang cukup dapat
menjauhkan kita dari berbagai penyaki. Minimal satu kali dalam seminggu untuk
menyeimbangkan gerak otot dan memperlancar asupan oksigen ke dalam otak sehingga
meningkatkan daya konsentrasi yang optimal.
4.
Bangun Pagi
atau Shalat Shubuh
Ketika pajar atau
ketika waktu Shubuh, udara masih nersih bebas dari polusi, sehingga dapat berdampak
baik untuk kesehatan paru-paru. Bangunlah lebih pagi untuk mendapat asupan
udara yang bersih. Dengan bangun lebih pagi, manusia bisa merencanakan apa yang
akan dilakukan secara lebih cermat dan tak terburu-buru. Agar bisa bangun lebih
pagi, maka pertimbangan tidur lebih awal harus haruslah menjadi perhatian
semua.
5.
Puasa Senin
dan Kamis
Selain berpahala,
puasa senin dan kamis memberikan waktu lambung untuk beristirahat. Bayangkan
setiap hari lambung kita bekerja keras untuk mencerna makanan tiap pagi, siang
dan malam bahkan saat kita tertidur pulas. Pada saat berpuasa, lambung kita
akan beristirahat dalam memproses makanan yang belum tercerna sebelumnya, serta
menyaring racun yang mungkin tersimpan dalam tubuh yang kurang sempurna.
6.
Menjaga
Kebersihan
Tempat yang kotor
sangat rentan menyebabkan penyakit, maka dari itu Islam sangat menganjurkan
untuk menjaga kebersihan diri, tempat tinggal, dan juga pakaian. Bahkan
Rasulallah sendiri juga mengatakan bahwa “Kebersihan itu sebagian daripada
iman” (Hadits). Maka menjaga kebersihan akan berdampak positif bagi
kesehatan kita.
7.
Mengkonsumsi
Kurma dan Madu
Pada aspek
pengendalian gizi, Rasulallah selalu menjaga makanan yang dikonsumsi.
Rasulallah kerap mengkonsumsi kurma, baik kurma kering maupun kurma basah.
Anjuran mengkonsumsi kurma juga beberapa kali di sebutkan dalam Al-Qur’an.
Selain kurma, Rasulallah juga mengkonsumsi madu yang berguna untuk membersihkan
pencernaan. Sebagaimana hadits beliau: “Hendaknya kalian menggunakan dua
macam obat, yakni madu dan Al-Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).
Semasa hidup, Rasulallah
senantiasa peduli pada aspek kesehatan, baik kesehatan pribadi maupun kesehatan
umatnya. Ajaran beliau lebih menitik banyak menitik beratkan pada pola
pencegahan daripada pola pengobatan. Gaya hidup sehat Rasulallah lebih mengacu
pada pengendalian gizi makanan. Makanan Rasulallah terseleksi secara disiplin
dan ketat, baik dari tingkat kehalalannya maupun tingkat kebaikannya. Ukuran
kehalalan dinilai dari cara mendapatkannya secara halal (legal) yang syarat
dengan urusan keakhiratan, sedangkan kebaikan (thayyib) berkaitan dengan
kandungan gizi pada makanan.
Demikian sedikit
dari sekian lengkap dan paripurnanya sisi kehidupan Rasulallah dan dalam
upayanya menseimbangakan urusan keakhiratan dengan urusan ke duniawian
khususnya pada sisi menjaga kesehatan tubuh, sebagai penopang ibadah dalam
menjalani kehidupann sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi yang
mempunyai titah mulia sebagai abdi-Nya, teriring do’a semoga kita semua sedikit
banyaknya dapat mencontoh pola hidup Rasulallah
SAW sebagai suri tauladan kita semua, amin...
Langganan:
Postingan (Atom)



